HUMAS FAHUTAN – Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) menerima kunjungan audiensi dari Yayasan Pelestari Ragam Hayati dan Cipta Fondasi Indonesia (PRCF Indonesia) pada Senin (15/6) di Fakultas Kehutanan USU. Pertemuan ini bertujuan untuk mempererat hubungan kelembagaan sekaligus menjajaki peluang kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dari pihak PRCF Indonesia, audiensi dihadiri oleh Imanul Huda selaku Indonesia Director, Jonathan Situmeang sebagai Social Forestry Officer, Fatimah sebagai Hadabuan Hill Program Coordinator, dan Sabaruddin sebagai Batang Toru Program Coordinator. Sementara itu, dari Fakultas Kehutanan USU hadir Dekan Fakultas Kehutanan USU Prof. Arida Susilowati bersama Dr. Anita Zaitunah, Dr. Nelly Anna, dan Dr. Kansih Sri Hartini.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan perkenalan yang dipandu oleh Dr. Nelly Anna, dilanjutkan dengan pemaparan profil Fakultas Kehutanan USU oleh Dr. Anita Zaitunah. Dalam pemaparannya, Dr. Anita menjelaskan berbagai capaian, program akademik, serta kontribusi Fakultas Kehutanan USU dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan.
Pada sesi berikutnya, tim PRCF Indonesia memaparkan berbagai program dan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam mendukung konservasi keanekaragaman hayati serta pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan. PRCF Indonesia menjelaskan perannya dalam memfasilitasi berbagai kegiatan konservasi satwa liar dan penguatan kapasitas masyarakat melalui pendekatan partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumber daya alam.

Salah satu program yang disampaikan adalah pengelolaan hutan desa sebagai skema tata kelola hutan berbasis masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian sumber daya hutan. Selain itu, PRCF Indonesia juga menjalankan kegiatan monitoring biodiversitas melalui pemasangan kamera trap untuk memantau aktivitas satwa liar, pengembangan demplot agroforestri, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan komoditas hasil hutan bukan kayu seperti kopi dan asam gelugur. Produk kopi yang dikembangkan di kawasan Hadabuan bahkan telah berhasil menjangkau pasar ekspor dan menjadi salah satu contoh keberhasilan pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan.
Dalam bidang konservasi satwa liar, PRCF Indonesia turut melakukan monitoring terhadap enam spesies kucing liar yang terdapat di wilayah kelolanya di Lanskap Hadabuan. Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan dan pelestarian satwa liar serta menjaga keseimbangan ekosistem hutan di Sumatera.
Pada sesi diskusi, Dr. Anita Zaitunah mengajukan pertanyaan mengenai strategi pendekatan yang dilakukan PRCF Indonesia kepada masyarakat sehingga mampu membangun pengelolaan berbasis swadaya masyarakat secara efektif. Menanggapi hal tersebut, Imanul Huda menjelaskan bahwa pendekatan dilakukan secara bertahap melalui pembangunan komunikasi yang baik dengan masyarakat, tinggal bersama warga di desa, mendengarkan berbagai aspirasi dan permasalahan yang dihadapi, serta mencari solusi secara bersama-sama. Pendekatan tersebut dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam membangun kepercayaan dan partisipasi masyarakat dalam berbagai program konservasi dan pemberdayaan.
Melalui audiensi ini, kedua belah pihak sepakat bahwa terdapat banyak peluang kerja sama yang dapat dikembangkan dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bentuk kolaborasi yang berpotensi diwujudkan antara lain penelitian bersama, kolaborasi riset, pembimbingan mahasiswa, pelaksanaan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), serta keterlibatan praktisi PRCF Indonesia sebagai dosen tamu atau praktisi mengajar.
Kolaborasi yang dijajaki antara Fakultas Kehutanan USU dan PRCF Indonesia juga memiliki keterkaitan erat dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan melalui pengelolaan komoditas hasil hutan bukan kayu seperti kopi dan asam gelugur berkontribusi terhadap SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui peningkatan pendapatan dan penciptaan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan. Program tersebut juga mendukung SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong terciptanya lapangan kerja yang produktif serta penguatan ekonomi lokal berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan.
Selain itu, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat turut mendukung SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui terciptanya lingkungan hidup yang lebih baik dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Berbagai kegiatan konservasi dan rehabilitasi lahan yang dilakukan juga memberikan manfaat terhadap perlindungan daerah tangkapan air dan peningkatan kualitas sumber daya air, sehingga berkontribusi pada pencapaian SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak).
Di sisi lain, berbagai upaya konservasi yang dijalankan PRCF Indonesia, termasuk perlindungan satwa liar, pemantauan keanekaragaman hayati, pengembangan agroforestri, serta pengelolaan hutan berbasis masyarakat merupakan bentuk aksi nyata dalam mendukung SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Program-program tersebut juga berkontribusi secara langsung terhadap SDGs 15 (Ekosistem Daratan) melalui upaya pelestarian habitat, perlindungan flora dan fauna, serta pemulihan fungsi ekosistem daratan yang berkelanjutan.
Seluruh inisiatif tersebut semakin diperkuat melalui sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi konservasi yang mencerminkan implementasi SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kolaborasi antara Fakultas Kehutanan USU dan PRCF Indonesia diharapkan mampu menghasilkan inovasi, penelitian, serta program pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Audiensi ini menjadi langkah awal yang strategis dalam membangun sinergi antara dunia akademik dan praktisi konservasi guna mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan, pelestarian keanekaragaman hayati, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ke depan, kerja sama yang terjalin diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih luas dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, nasional, maupun global.
