HUMAS FAHUTAN – Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan kolaborasi internasional melalui penyelenggaraan The 2nd International Conference on Bamboo, Forestry Resources, and Application (IC-BaFoRA) 2026 yang berlangsung pada Rabu (17/6) di Hotel Grandhika Medan dan diselenggarakan secara hybrid melalui Zoom Meeting.
Konferensi internasional ini menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk berbagi pengetahuan, hasil riset, dan inovasi terkait pemanfaatan bambu, sumber daya kehutanan, serta aplikasinya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan ketahanan lingkungan.

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta yang dilanjutkan dengan acara pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, doa, serta penampilan tari tradisional sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan budaya Indonesia. Ketua panitia, Dr. Samsuri, dalam sambutannya menyampaikan bahwa IC-BaFoRA merupakan forum ilmiah yang diharapkan mampu memperkuat jejaring kerja sama internasional sekaligus mempercepat hilirisasi hasil penelitian di bidang kehutanan dan bambu.

Konferensi secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama Prof. Himsar Ambarita, yang dalam pidatonya menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta kebutuhan akan material berkelanjutan untuk masa depan.
Dalam kesempatan ini, Dekan Fakultas Kehutanan USU Prof. Arida Susilowati juga memberi sambutan hangat kepada seluruh peserta dan hadirin. Dalam sambutannya, Prof. Arida menyampaikan apresiasi kepada keynote speaker atas ketersediaannya hadir dalam konferensi internasional tersebut. Prof. Arida juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan peluang kolaborasi riset yang sangat baik untuk meningkatkan berbagai pengembangan di bidang kehutanan dan pemanfaatan biomaterial.
Pada sesi utama, para peserta mendapatkan paparan dari sejumlah pembicara internasional yang membahas berbagai topik strategis terkait bambu dan sumber daya kehutanan. Sesi panel pertama yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Eng. Ir. Irvan, M.Si. menghadirkan tiga narasumber, yaitu Lum Wei Chen, Ph.D yang memaparkan materi berjudul Mechanical and Fire Performance of Bamboo-Based Composites for Sustainable and Climate-Resilient Applications, Dr. Ir. Ar. Achmad Delianur Nasution dengan topik Bamboo Architecture as an Earthquake-Resilient Construction Material, serta Prof. Petar Antov yang membahas Sustainable Bamboo and Wood-Based Composites for Green Construction and Industrial Applications.

Selanjutnya, sesi panel kedua yang dipandu oleh Dr. Ir. Rahmi Karolina, S.T., M.T., IPM., GP menghadirkan Prof. Chen Su dengan materi Integrating Bioinformatics and Genomics to Uncover Climate Resilient Traits in Bamboo serta Prof. Dr. Agr. Sc. Ragil Widyorini, S.T., M.T. yang menyampaikan kajian mengenai Structural Biocomposite Technologies from Bamboo and Forest Biomass. Berbagai paparan tersebut menyoroti peran bambu sebagai sumber daya terbarukan yang memiliki potensi besar dalam mendukung pembangunan rendah karbon, inovasi material ramah lingkungan, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Memasuki sesi siang, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi paralel yang terbagi ke dalam empat ruang diskusi. Para peneliti dan akademisi mempresentasikan hasil penelitian terbaru yang mencakup berbagai tema kehutanan, konservasi, pengelolaan sumber daya alam, biomaterial, teknologi hasil hutan, hingga inovasi pemanfaatan bambu. Sesi ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk berdiskusi secara langsung, bertukar gagasan, serta membangun peluang kolaborasi penelitian di masa mendatang.

Presentasi paralel dipandu oleh para moderator dari Fakultas Kehutanan USU, yaitu Dr. Agr. Faujiah Nurhasanah Ritonga, S.Hut., M.Si, Deanova Pelawi, S.Hut., M.Sc, Suri Fadhila S.Hut., M.Sc, dan Dr. Kansih Sri Hartini, S.Hut., M.P. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung di setiap ruang presentasi.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kualitas karya ilmiah yang dipresentasikan, panitia juga mengumumkan Best Presenter Award pada akhir kegiatan. Penghargaan ini diberikan kepada peserta yang dinilai memiliki kualitas presentasi terbaik, kontribusi ilmiah yang signifikan, serta kemampuan komunikasi yang efektif dalam menyampaikan hasil penelitiannya.
Kegiatan ditutup oleh ketua IC-BaFoRa yaitu Dr. Samsuri, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, peserta, panitia, dan mitra yang telah berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan IC-BaFoRA 2026. Beliau berharap konferensi ini dapat menjadi momentum penting dalam memperkuat kerja sama internasional dan menghasilkan solusi inovatif untuk mendukung pengelolaan sumber daya kehutanan yang berkelanjutan, dan dapat diselenggarakan ditahun-tahun berikutnya.

Penyelenggaraan IC-BaFoRA 2026 juga sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Berbagai topik yang diangkat dalam konferensi ini mendukung SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam yang ramah lingkungan, khususnya bambu dan biomassa hutan, yang memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif terbarukan. Pemanfaatan sumber daya tersebut tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga membuka peluang lahirnya inovasi energi kreatif yang berkelanjutan dan berbasis sumber daya lokal.
Selain itu, berbagai hasil penelitian dan inovasi yang dipresentasikan selama konferensi turut mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Pengembangan teknologi komposit berbasis bambu, pemanfaatan biomassa hutan, serta penerapan berbagai hasil riset dalam sektor konstruksi dan industri menunjukkan peran penting ilmu pengetahuan dalam mendorong terciptanya industri yang lebih hijau, inovatif, dan berkelanjutan.
Pembahasan mengenai ketahanan iklim, material ramah lingkungan, serta strategi pemanfaatan sumber daya hutan secara berkelanjutan juga menjadikan IC-BaFoRA 2026 relevan dengan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Melalui pertukaran pengetahuan dan hasil penelitian terkini, konferensi ini berkontribusi dalam menghasilkan solusi ilmiah yang dapat mendukung upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim di tingkat lokal maupun global.
Lebih jauh, kehadiran peserta dan narasumber dari berbagai institusi serta negara mencerminkan semangat SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). IC-BaFoRA 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat jejaring internasional, membangun kolaborasi multidisiplin, serta menciptakan sinergi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Melalui kemitraan yang kuat, berbagai inovasi dan gagasan yang lahir dari konferensi ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan di masa depan.
Melalui penyelenggaraan The 2nd International Conference on Bamboo, Forestry Resources, and Application (IC-BaFoRA) 2026, Fakultas Kehutanan USU kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, riset inovatif, dan kolaborasi global dalam mewujudkan masa depan kehutanan yang lebih berkelanjutan.

