home icon
search icon
menu icon

> Berita > SMKI 2025: 48 Kampus Kehutanan Berkumpul di Medan Bahas Masa Depan Rimbawan dan Krisis Iklim Global

SMKI 2025: 48 Kampus Kehutanan Berkumpul di Medan Bahas Masa Depan Rimbawan dan Krisis Iklim Global

Dipublikasi Pada

16 Oktober 2025

Dipublikasi Oleh

Wanda Afnes Rahmatika, S.Hut

SMKI 2025: 48 Kampus Kehutanan Berkumpul di Medan Bahas Masa Depan Rimbawan dan Krisis Iklim Global
Thumbnail SMKI 2025: 48 Kampus Kehutanan Berkumpul di Medan Bahas Masa Depan Rimbawan dan Krisis Iklim Global
SMKI 2025 menghadirkan rimbawan muda dari 48 perguruan tinggi di Medan untuk membahas perubahan iklim, tata kelola hutan, FOLU Net Sink 2030, dan masa depan kehutanan Indonesia.

HUMAS FAHUTAN — Universitas Sumatera Utara (USU) kembali menjadi pusat perhatian nasional dengan suksesnya penyelenggaraan Seminar Nasional Mahasiswa Kehutanan Indonesia (SMKI 2025) pada 6 November 2025 di Gelanggang Mahasiswa USU. Lebih dari 48 perguruan tinggi kehutanan dari seluruh Indonesia hadir dalam forum akbar ini untuk membahas peran strategis generasi muda dalam menghadapi krisis iklim global dan masa depan pengelolaan hutan berkelanjutan. Tahun ini, kegiatan mengusung tema besar “Kehutanan Masa Depan: Strategi Kolaboratif Menjawab Krisis Iklim Global.”

 

 

Pembukaan SMKI 2025 berlangsung megah dengan kehadiran berbagai pemangku kepentingan akademik dan organisasi mahasiswa kehutanan Indonesia. Turut memberikan sambutan: Ketua Panitia SMKI 2025 Adil Hakim Ritonga, Ketua HIMAS Sylva USU Johanes Nainggolan, Sekretaris Jenderal Sylva Indonesia Wahyu Agung, Ketua Dewan Perwakilan Sylva Indonesia Agung Wirayudha, Dekan Fakultas Kehutanan USU Prof. Dr. Ir. Rudi Hartono, S.Hut., M.Si., IPM., serta perwakilan Rektor USU Rahma Yurliani, S.Psi., M.Psi., sebagai Direktur Direktorat Prestasi Mahasiswa dan Hubungan Kealumnian (Ditmawalumni) USU.

 

 

Acara semakin menggelora dengan hadirnya keynote speaker Fahrizal Fitri, S.Hut., M.P., Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang menekankan pentingnya kolaborasi multipihak, terutama di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.

 

Mari jadikan hutan sebagai pusat kehidupan dan peradaban hijau Indonesia,” tegasnya di hadapan ratusan peserta.

 

 

Dalam sesi seminar, para pakar kehutanan nasional, termasuk Prof. Dr. Ir. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si., selaku Guru Besar Fakultas Kehutanan USU, memaparkan urgensi kontribusi ilmu pengetahuan dan data presisi untuk mendukung kebijakan iklim Indonesia, khususnya pencapaian FoLU Net Sink 2030. Rimbawan muda pun didorong menjadi pionir perubahan melalui inovasi, peningkatan kapasitas, dan penguatan kesadaran lingkungan.

 

 

Sementara itu, Masrizal Saraan, S.Hut., M.Si., selaku Direktur Eksekutif Yayasan PETAI , mengungkapkan potensi besar Sumatera Utara dalam mengakses pendanaan iklim global berkat luasnya hutan dan kapasitas penyimpanan karbon. Menurutnya, penguatan data, kelembagaan, dan kesiapan program adalah kunci agar provinsi ini siap menuju ekonomi hijau berketahanan iklim.

 

Dari kesiapan menuju aksi, Sumatera Utara melangkah menuju ekonomi hijau yang berketahanan iklim,” ujarnya.

 

 

Tak hanya seminar, kegiatan ini turut diramaikan oleh Forestry of Champion, Focus Group Discussion (FGD), serta fieldtrip edukatif ke Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC). Seluruh rangkaian tersebut dirancang untuk memperkuat pengalaman lapangan, jejaring nasional, serta kemampuan analisis ekologis para peserta.

 

Fakultas Kehutanan USU menegaskan komitmennya untuk mencetak SDM kehutanan yang inovatif, adaptif, dan kompetitif secara global. Kehadiran rimbawan muda dari seluruh Indonesia menjadi bukti kuatnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan hutan dan memperkuat agenda mitigasi krisis iklim nasional.

 

Kegiatan SMKI 2025 ditutup dengan seruan kuat bagi seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan di daerah masing-masing, memperkuat aksi pelestarian hutan, dan meningkatkan kontribusi Indonesia dalam penurunan emisi global. SMKI 2025 pun menjadi tonggak penting dalam mempersiapkan rimbawan masa depan yang siap menjawab tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Berita