HUMAS FAHUTAN — Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) menggelar kunjungan dan sharing session terkait pengembangan pembibitan vegetatif dan teknologi kultur jaringan untuk mendukung rehabilitasi kawasan Danau Toba. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (26/5/2026) ini dilaksanakan secara hybrid di Kantor Penghubung INALUM Medan dan diikuti oleh berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap upaya pemulihan lingkungan di kawasan strategis tersebut.

Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Kehutanan USU, Prof. Dr. Arida Susilowati, S.Hut., M.Si., didampingi Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, Dr. Anita Zaitunah, S.Hut., M.Sc., Staf Ahli Dekan Bidang Penelitian Dr. Agr. Faujiah Nurhasanah Ritonga, S.Hut., M.Si., serta Sekretaris Dekan Ida Mallia Ginting, S.Hut. Sementara itu, pihak INALUM diwakili oleh A. Iqbal, STP., Natalia Permata Sari, Sunarno A. Rakino, dan Alvi Syahrin. Turut hadir pula perwakilan dari Perum Jasa Tirta I (PJT I), yaitu Gede Santika D., Rijal Hasibuan, dan Ruben Parhasian Siregar.

Diskusi berlangsung interaktif dengan membahas berbagai tantangan yang dihadapi dalam rehabilitasi Daerah Tangkapan Air (DTA) di kawasan sekitar Danau Toba. Dalam pemaparannya, Kepala Divisi Konservasi dan Penghijauan INALUM, Sunarno A. Rakino, menjelaskan bahwa kondisi lahan yang marginal dan berbatu masih menjadi kendala utama dalam pelaksanaan rehabilitasi. Selain itu, ketersediaan bibit yang terbatas juga menjadi tantangan dalam mendukung program penghijauan yang telah dijalankan secara berkelanjutan sejak tahun 2020.

Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Prof. Arida Susilowati menyampaikan sejumlah masukan berbasis keilmuan kehutanan dan pengalaman lapangan. Beberapa solusi yang dibahas meliputi pentingnya penggunaan spesies lokal yang sesuai dengan karakteristik lahan, evaluasi kesesuaian tapak sebelum penanaman, penguatan keterlibatan masyarakat sekitar kawasan, hingga pemanfaatan teknologi kultur jaringan sebagai alternatif penyediaan bibit unggul dalam jumlah besar secara berkelanjutan.

Menurut Prof. Arida, pengembangan kultur jaringan berpotensi menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung keberhasilan rehabilitasi kawasan, terutama pada wilayah yang memiliki keterbatasan sumber bibit dan kondisi lingkungan yang cukup menantang. Pendekatan ini juga dinilai dapat meningkatkan efisiensi penyediaan bibit sekaligus mendukung pelestarian jenis-jenis pohon yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Selain menjadi forum pertukaran informasi dan pengalaman, pertemuan ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara Fakultas Kehutanan USU, INALUM, dan PJT I dalam mendukung rehabilitasi lingkungan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai menjadi faktor penting dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya rehabilitasi lahan dan penghijauan, SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pemulihan kualitas ekosistem kawasan Danau Toba, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan lembaga pengelola sumber daya air.

Melalui diskusi dan pertukaran gagasan ini, diharapkan lahir berbagai inovasi dan langkah konkret yang mampu memperkuat upaya rehabilitasi kawasan Danau Toba sekaligus mendukung pembangunan lingkungan yang berkelanjutan di Sumatera Utara.