> Berita > KK SAZWA USU Gelar Workshop “Beyond The Loom”, Dorong Inovasi Alat Tenun Melayu dan Eksplorasi Serat Alam Berkelanjutan
KK SAZWA USU Gelar Workshop “Beyond The Loom”, Dorong Inovasi Alat Tenun Melayu dan Eksplorasi Serat Alam Berkelanjutan
Dipublikasi Pada
07 Juni 2026
Dipublikasi Oleh
Ida Mallia Ginting Suka S.Hut
Thumbnail KK SAZWA USU Gelar Workshop “Beyond The Loom”, Dorong Inovasi Alat Tenun Melayu dan Eksplorasi Serat Alam Berkelanjutan
Klaster Keilmuan Serat Alam dan Zat Warna Alam (KK SAZWA) Universitas Sumatera Utara (USU) sukses menyelenggarakan workshop bertajuk “Beyond The Loom: Inovasi Alat Tenun Melayu dan Eksplorasi Serat Alam Berkelanjutan” yang berlangsung selama dua hari, pada 6–7 Juni 2026. Kegiatan ini diselenggarakan di dua lokasi berbeda, yaitu Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU pada hari pertama dan dilanjutkan di Gedung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USU pada hari kedua.
HUMAS FAHUTAN USU – Klaster Keilmuan Serat Alam dan Zat Warna Alam (KK SAZWA) Universitas Sumatera Utara (USU) sukses menyelenggarakan workshop bertajuk “Beyond The Loom: Inovasi Alat Tenun Melayu dan Eksplorasi Serat Alam Berkelanjutan” yang berlangsung selama dua hari, pada 6–7 Juni 2026. Kegiatan ini diselenggarakan di dua lokasi berbeda, yaitu Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU pada hari pertama dan dilanjutkan di Gedung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USU pada hari kedua.
Workshop ini menjadi wadah kolaborasi dan pertukaran pengetahuan yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi industri, dosen, mahasiswa, serta berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan serat alam, zat warna alam, dan inovasi teknologi tenun yang berkelanjutan.
Kegiatan dihadiri oleh Ketua KK SAZWA, Dr. Tito Sucipto, Dekan Fakultas Kehutanan USU, Prof. Arida Susilowati, Ketua Pusat Unggulan Iptek (PUI) Songket USU, Dr. Tengku Syarfina, Chief Strategy Officer and Research Consultant Padapa Natural Dye and Fiber, Fatimah Rangkuti, S.Ds, serta dipandu oleh moderator Dr. Iwan Risnasari. Selain itu, workshop juga dihadiri oleh para dosen dari berbagai Fakultas di lingkungan USU serta pihak-pihak terkait yang memiliki perhatian terhadap pengembangan material berkelanjutan dan pelestarian budaya tenun Nusantara.
Dalam sambutannya, Ketua KK SAZWA, Dr. Tito Sucipto, menyampaikan bahwa tema Beyond The Loom mencerminkan semangat untuk melampaui fungsi tradisional alat tenun sebagai sarana produksi tekstil, menuju pengembangan inovasi yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan keberlanjutan.
“Serat alam dan zat warna alam memiliki potensi besar sebagai material masa depan yang ramah lingkungan. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk menghasilkan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, industri, dan lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kehutanan USU, Prof. Arida Susilowati, menekankan pentingnya pemanfaatan sumber daya hayati lokal secara berkelanjutan melalui pendekatan riset dan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masa depan.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh wawasan komprehensif mengenai berbagai aspek pengembangan serat alam dan teknologi tenun. Salah satu sesi utama adalah pengenalan pengembangan alat tenun Melayu yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan proses menenun tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat pada tradisi tersebut.
Workshop juga menghadirkan sesi eksplorasi variasi serat alam Nusantara yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah. Peserta diperkenalkan pada beragam sumber serat alami yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif material berkelanjutan untuk kebutuhan tekstil maupun industri kreatif.
Tidak kalah menarik, kegiatan ini menampilkan inovasi material berbasis limbah kulit jeruk sebagai bentuk pemanfaatan limbah organik yang mendukung konsep ekonomi sirkular. Inovasi tersebut menunjukkan bagaimana hasil penelitian dapat menghasilkan material baru yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
Sebagai bagian dari pengalaman pembelajaran yang aplikatif, peserta juga mengikuti demonstrasi dan praktik menenun secara langsung. Melalui sesi ini, peserta memperoleh kesempatan untuk memahami proses pengolahan serat alam dan penggunaan alat tenun secara praktis.
Rangkaian kegiatan semakin semarak dengan penyelenggaraan mini fashion show yang menampilkan berbagai produk kain tenun berbahan serat alam. Kegiatan ini menunjukkan bahwa material alami tidak hanya memiliki keunggulan dari aspek keberlanjutan, tetapi juga mampu menghasilkan produk dengan nilai estetika tinggi dan potensi pasar yang menjanjikan.
Workshop turut menghadirkan sesi diskusi interaktif dan sharing session yang memungkinkan peserta berdialog langsung dengan para narasumber mengenai tantangan, peluang, serta arah pengembangan serat alam dan zat warna alam di Indonesia. Antusiasme peserta juga terlihat pada sesi Experience Corner, di mana mereka dapat mencoba secara langsung alat tenun hasil pengembangan terbaru.
Pelaksanaan hari kedua di LPPM USU semakin memperkuat semangat kolaborasi antara peneliti, akademisi, dan mitra strategis dalam membangun ekosistem riset yang mendukung hilirisasi inovasi berbasis serat alam. Berbagai diskusi lanjutan difokuskan pada penguatan jejaring kerja sama, peluang pengembangan produk inovatif, serta strategi pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan Beyond The Loom: Inovasi Alat Tenun Melayu dan Eksplorasi Serat Alam Berkelanjutan juga sejalan dengan berbagai tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui pengembangan alat tenun Melayu, eksplorasi serat alam Nusantara, serta inovasi material berbasis limbah organik, workshop ini mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan mendorong lahirnya inovasi teknologi dan pengembangan industri berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan.
Selain itu, kegiatan ini berkontribusi pada SDG 1: Tanpa Kemiskinan melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan pelaku usaha tenun yang berpotensi membuka peluang kerja baru serta meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya di sektor ekonomi kreatif berbasis budaya. Pengembangan keterampilan menenun dan pemanfaatan serat alam juga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan menciptakan peluang usaha yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.
Dari aspek lingkungan, penggunaan serat alam dan zat warna alam sebagai alternatif bahan baku tekstil mendukung pencapaian SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pemanfaatan sumber daya terbarukan serta inovasi material dari limbah kulit jeruk menunjukkan komitmen terhadap efisiensi sumber daya dan pengurangan limbah melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Lebih jauh, pengembangan tekstil berbasis serat alam memiliki potensi untuk mendukung SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim. Penggunaan material alami yang dapat diperbarui berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan terhadap serat sintetis berbasis petrokimia yang proses produksinya menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih tinggi. Di samping itu, pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku inovatif turut membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan mendukung praktik produksi yang lebih ramah iklim.
Dengan demikian, workshop ini tidak hanya menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga merupakan langkah konkret dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan melalui penguatan inovasi, pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya, serta perlindungan lingkungan.
Melalui workshop ini, KK SAZWA berharap dapat terus mendorong lahirnya inovasi yang mampu mengintegrasikan kekayaan sumber daya alam Indonesia dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan semangat Beyond The Loom, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam merajut kolaborasi, melestarikan warisan budaya, dan menciptakan solusi berkelanjutan bagi masa depan.