home icon
search icon
menu icon

> Berita > Dinilai Cukup Meresahkan, LPPM USU dan Fakultas Kehutanan Beri Solusi Atasi Konflik Manusia dan Harimau di Timbang Lawan

Dinilai Cukup Meresahkan, LPPM USU dan Fakultas Kehutanan Beri Solusi Atasi Konflik Manusia dan Harimau di Timbang Lawan

Dipublikasi Pada

01 Januari 2024

Dipublikasi Oleh

Anonymous Writer

Dinilai Cukup Meresahkan, LPPM USU dan Fakultas Kehutanan Beri Solusi Atasi Konflik Manusia dan Harimau di Timbang Lawan
Thumbnail Dinilai Cukup Meresahkan, LPPM USU dan Fakultas Kehutanan Beri Solusi Atasi Konflik Manusia dan Harimau di Timbang Lawan
Konflik manusia-harimau di Desa Timbang Lawan menjadi perhatian serius akibat deforestasi dan perburukan habitat. LPPM USU menawarkan solusi inovatif dengan menjadikan desa ini sebagai desa wisata berbasis kearifan lokal dan keindahan alam.

Hidup berdampingan dengan satwa liar merupakan tantangan tersendiri bagi masyarakat yang tinggal berbatasan dengan hutan lindung. Kehadiran satwa liar yang tidak dapat diprediksi menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat desa. Meskipun pada dasarnya satwa liar yang “merasa aman” tidak akan mengganggu manusia, tempat tinggal yang berada di sekitar zona jelajahnya tetap berpotensi merugikan masyarakat, baik dengan menimbulkan rasa takut maupun memangsa ternak. Habitat yang semakin menyempit dan berkurangnya pasokan makanan telah mendorong satwa liar masuk ke pemukiman warga.

 

Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, adalah salah satu desa yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). TNGL merupakan salah satu taman nasional terbesar di Indonesia dan menjadi habitat bagi berbagai satwa liar, termasuk harimau. Beberapa kasus kehilangan ternak oleh harimau telah dilaporkan terjadi di desa ini. Namun, hingga kini, belum ditemukan solusi yang efektif dan efisien untuk menyelesaikan konflik antara manusia dan harimau.

 


 

Maraknya konflik di Desa Timbang Lawan telah menarik perhatian berbagai pihak untuk menawarkan solusi. Pada Sabtu, 30 Desember 2023, Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) USU, yang diketuai oleh Dr. Pindi Patana, S.Hut., M.Sc., mengunjungi desa tersebut dan melakukan sejumlah kegiatan untuk mengamati dan menganalisis konflik yang terjadi. Dalam kunjungannya, Dr. Pindi mengatakan bahwa tema yang diangkat merupakan tindak lanjut dari permasalahan deforestasi di kawasan hutan TNGL yang berbatasan langsung dengan Desa Timbang Lawan. Deforestasi telah memberikan dampak negatif berupa bencana ekologis, seperti banjir yang merusak lahan pertanian dan perkebunan, serta bencana sosial berupa serangan harimau terhadap ternak warga. Dr. Pindi menambahkan bahwa bencana sosial inilah yang berpotensi memicu konflik antara manusia dan harimau.

 


 

Sebagai solusi, beliau menawarkan pengembangan Desa Timbang Lawan sebagai desa wisata berbasis kearifan lokal dan keindahan alam yang menggabungkan pesona Sungai Bahorok, kebun, dan hutan yang ada di desa tersebut. Selain itu, Dr. Pindi mengungkapkan bahwa terdapat banyak objek wisata potensial yang belum dikelola secara optimal, seperti Pantai Datuk Landak, Lubuk Larangan, Makam Datuk Landak, Air Terjun Selang Pangeran, Goa Batu Rijal, Goa Air, dan Goa Angin. Oleh karena itu, pengembangan desa wisata diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan bagi warga desa dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

 

Penguatan kelembagaan juga menjadi aspek penting dalam mewujudkan desa wisata yang mampu mengelola berbagai kegiatan secara sistematik, berkelanjutan, dan mandiri. Dr. Pindi menjelaskan bahwa Tim Desa Binaan LPPM USU telah melakukan berbagai kegiatan penguatan kelembagaan untuk mendukung Desa Timbang Lawan sebagai desa wisata. Keterlibatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) USU dalam mengedukasi warga untuk mengembangkan potensi wisata alam di desa tersebut juga merupakan bagian dari upaya penguatan kelembagaan sejak tahun 2022. Dengan serangkaian upaya pembangunan desa ini, diharapkan kesejahteraan masyarakat dan pelestarian habitat harimau dapat tercapai, sekaligus meminimalkan konflik yang terjadi. 

Berita