home icon
search icon
menu icon

> Berita > USU Dorong Pemanfaatan Eceng Gondok Jadi Kompos di Desa Simangulampe: Inovasi Hijau untuk Pulihkan Lahan Pasca Banjir

USU Dorong Pemanfaatan Eceng Gondok Jadi Kompos di Desa Simangulampe: Inovasi Hijau untuk Pulihkan Lahan Pasca Banjir

Dipublikasi Pada

14 Oktober 2025

Dipublikasi Oleh

Wanda Afnes Rahmatika, S.Hut

USU Dorong Pemanfaatan Eceng Gondok Jadi Kompos di Desa Simangulampe: Inovasi Hijau untuk Pulihkan Lahan Pasca Banjir
Thumbnail USU Dorong Pemanfaatan Eceng Gondok Jadi Kompos di Desa Simangulampe: Inovasi Hijau untuk Pulihkan Lahan Pasca Banjir
Universitas Sumatera Utara (USU) melalui kegiatan Pengabdian pada Masyarakat (PPM) Desa Binaan menggelar penyuluhan dan praktik pengomposan di Desa Simangulampe, Humbahas. Kegiatan ini mendorong masyarakat mengolah eceng gondok Danau Toba menjadi pupuk organik sebagai solusi atas keterbatasan lahan dan pemulihan pasca banjir bandang

HUMAS FAHUTAN — Universitas Sumatera Utara (USU) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan melalui kegiatan Pengabdian pada Masyarakat (PPM) skema Desa Binaan tahun kedua (2025) di Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

 

Pasca banjir bandang tahun 2023 yang melanda kawasan ini, banyak lahan pertanian warga tak lagi produktif. Namun, kondisi tersebut justru menjadi titik awal bagi munculnya inovasi baru. Tim PPM USU hadir dengan solusi ramah lingkungan: mengubah eceng gondok Danau Toba dan limbah organik menjadi kompos untuk memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan produktivitas lahan terbatas.

 

 

Kegiatan yang digelar pada 11–12 Agustus 2025 di Aula Kantor Desa Simangulampe ini diikuti antusias oleh masyarakat, mulai dari kelompok wanita tani, karang taruna, hingga perangkat desa. Hadir pula Camat Baktiraja Sanggam Lumban Gaol dan Kepala Desa Simangulampe Lambok Simanullang.

 

Dalam sambutannya, Ketua Tim Pengabdian USU, Dr. Oding Affandi, menekankan pentingnya inovasi sederhana untuk menjawab permasalahan desa.

 

Eceng gondok yang selama ini dianggap gulma justru bisa menjadi sumber pupuk organik yang murah, ramah lingkungan, dan mudah dibuat. Dengan kompos, masyarakat bisa mengolah lahan sempit menjadi sumber pangan keluarga,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, Dr. Oding menjelaskan bahwa pengelolaan bahan organik bukan hanya meningkatkan kesuburan lahan, tetapi juga membantu menjaga kebersihan Danau Toba dengan mengurangi tumpukan eceng gondok yang mengganggu ekosistem perairan.

 

Sementara itu, Kepala Desa Simangulampe, Lambok Simanullang, menyampaikan apresiasinya kepada USU.

 

Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan bantuan USU. Kegiatan ini benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat kami, baik dalam mengatasi sampah organik rumah tangga maupun meningkatkan produktivitas pertanian keluarga meski lahan terbatas,” tuturnya.

 

Dalam sesi penyuluhan, dua narasumber turut memberikan materi:

  • Dr. Ridwanti Batubara, yang membahas strategi pertanian di lahan marginal melalui metode polybag, vertikultur, dan pengaturan pola tanam.

  • Nursaadah, M.Agr, yang menjelaskan teknik pembuatan kompos dari limbah rumah tangga dan eceng gondok, mulai dari pencacahan, fermentasi, hingga tahap siap pakai.

Eceng gondok tumbuh sangat cepat, menutupi permukaan air, dan menurunkan kadar oksigen. Dengan mengolahnya menjadi kompos, kita tidak hanya menambah nilai guna tetapi juga menjaga ekosistem Danau Toba,” jelas Nursaadah.

 

Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan, Tim PPM USU juga menyerahkan bantuan alat pengompos kepada pemerintah Desa Simangulampe untuk digunakan secara mandiri oleh warga. Langkah ini diapresiasi oleh Camat Baktiraja, Sanggam Lumban Gaol, yang menilai program tersebut sangat strategis.

 

Pemanfaatan lahan marginal dan pengolahan eceng gondok menjadi kompos adalah langkah konkret menjaga kelestarian Danau Toba sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa,” ujarnya.

 

Kegiatan ditutup dengan praktik langsung pembuatan kompos yang melibatkan seluruh peserta. Antusiasme warga terlihat tinggi ketika mereka mencoba mencacah eceng gondok, menaburkan bahan aktivator, dan memasukkannya ke dalam wadah komposter yang disediakan.

 

 

Melalui program ini, masyarakat Desa Simangulampe kini tidak hanya belajar mengelola limbah menjadi produk bermanfaat, tetapi juga menumbuhkan kesadaran baru tentang pentingnya pertanian berkelanjutan berbasis sumber daya lokal.


Kolaborasi antara USU, pemerintah, dan masyarakat diharapkan menjadikan Desa Simangulampe sebagai percontohan inovasi hijau di kawasan Danau Toba.

Berita