> Berita > Seminar Nasional HHBK USU Bahas Ekonomi Hijau dan Keberlanjutan Hutan
Seminar Nasional HHBK USU Bahas Ekonomi Hijau dan Keberlanjutan Hutan
Dipublikasi Pada
15 September 2025
Dipublikasi Oleh
Wanda Afnes Rahmatika, S.Hut
Thumbnail Seminar Nasional HHBK USU Bahas Ekonomi Hijau dan Keberlanjutan Hutan
Fakultas Kehutanan USU bersama Green Justice Indonesia menggelar Seminar Nasional HHBK yang membahas potensi ekonomi hijau dan pelestarian hutan, sekaligus menampilkan pameran produk hasil hutan non-kayu berkelanjutan.
HUMAS FAHUTAN — Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) bersama Green Justice Indonesia (GJI) menggelar Seminar Nasional Optimalisasi Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Secara Berkelanjutan pada Senin, 15 September 2025, di Aula Prof. Dr. Suhadji Hadibroto, Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU.
Kegiatan ini menghadirkan kombinasi narasumber dari akademisi, praktisi, hingga perwakilan masyarakat adat. Hadir di antaranya Onrizal, Ph.D; Dr. Iwan Risnasari, S.Hut., M.Si.; Liana Dwi Sri Hastuti, S.Si., M.Si., Ph.D; Purnomo (Direktur LESOS); Tampan Sitompul (Masyarakat Hukum Adat Simardangiang); serta Abdul Wahid Harahap (praktisi kopi).
Direktur GJI, Panut Hadisiswoyo, menegaskan bahwa potensi HHBK belum dikelola maksimal padahal bernilai tinggi tanpa harus merusak ekosistem. “Hutan bukan hanya kayu. Ada getah damar, kemenyan, obat-obatan, hingga sumber pangan yang jika dikelola lestari bisa lebih bernilai daripada industri ekstraktif. Sayangnya, masyarakat adat yang sudah lama menjaga hutan justru masih minim pengakuan,” ujarnya.
Sejumlah narasumber memberikan perspektif dari lapangan. Tampan Sitompul menekankan bahwa kemenyan bukan sekadar komoditas, melainkan identitas budaya masyarakat adat. Purnomo menyoroti pentingnya memperkuat petani tepi hutan lewat produk organik dan diversifikasi komoditas, sementara Abdul Wahid Harahap berbagi pengalaman membangun kopi Arabika Marancar sebagai kopi konservasi yang kini dikenal hingga mancanegara. “Kami para petani justru lebih menjaga hutan daripada yang sering dianggap orang. Konsep kami sederhana: bertani sambil menjaga alam,” tegas Wahid.
Dari sisi akademisi, Dr. Iwan Risnasari menyoroti peluang besar pewarna alami dan resin yang bisa menembus pasar global. “Tantangan kita ada pada mindset: hutan selalu dianggap bernilai hanya dari kayu, padahal hasil non-kayu justru lebih berkelanjutan,” jelasnya. Sementara itu, Liana Dwi Sri Hastuti menekankan potensi jamur sebagai pangan fungsional, obat-obatan, hingga kosmetik. “Indonesia adalah negara mega-biodiversitas. Jamur bisa menjadi solusi krisis pangan dan gizi, tapi riset kita masih terbatas,” katanya. Onrizal, Ph.D menambahkan contoh nyata dari ekosistem mangrove yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus menjaga lingkungan.
Selain seminar, digelar juga pameran produk HHBK yang menampilkan benang serat alam, kain berpewarna alami, kopi, hingga olahan jamur. Pameran ini menjadi bukti kolaborasi riset, masyarakat, dan pelaku usaha dalam menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan.
Melalui forum ini, Fakultas Kehutanan USU menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan HHBK yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Seminar ini juga menekankan pentingnya riset, hilirisasi produk, serta pengakuan hak masyarakat adat dalam menjaga keberlanjutan hutan Indonesia.