> Berita > Puska PIMB Fahutan USU Beri Kontribusi Strategis dalam FGD Bappenas untuk White Paper Kebijakan Ketahanan Bencana 2045
Puska PIMB Fahutan USU Beri Kontribusi Strategis dalam FGD Bappenas untuk White Paper Kebijakan Ketahanan Bencana 2045
Dipublikasi Pada
25 Oktober 2025
Dipublikasi Oleh
Wanda Afnes Rahmatika, S.Hut
Thumbnail Puska PIMB Fahutan USU Beri Kontribusi Strategis dalam FGD Bappenas untuk White Paper Kebijakan Ketahanan Bencana 2045
Tim peneliti Pusat Kajian Perubahan Iklim dan Mitigasi Bencana (Puska PIMB) Fakultas Kehutanan USU menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Bappenas untuk merumuskan rekomendasi kebijakan nasional menuju pembangunan berketahanan bencana dan iklim berkelanjutan tahun 2045.
HUMAS FAHUTAN — Tim peneliti dari Pusat Kajian Perubahan Iklim dan Mitigasi Bencana (Puska PIMB) Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) turut ambil peran penting dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia pada Jum'at, 24 Oktober 2025 di Kantor BPBD Sumatera Utara.
FGD bertajuk “Capaian, Isu, dan Strategi Pembangunan Berketahanan Bencana dan Iklim Berkelanjutan” ini menjadi forum strategis antara pemerintah pusat dan daerah dalam merumuskan arah kebijakan ketahanan bencana menuju Indonesia 2045. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari penyusunan white paper kebijakan nasional tentang pembangunan berketahanan iklim.
Acara ini menghadirkan berbagai narasumber dari lintas instansi, termasuk Direktur Lingkungan Hidup Bappenas Irfan D. Yananto, S.E., M.E.R.E; Habibi Lubis, S.T., M.T., dari Bappelitbang Sumatera Utara; Sekretaris BPBD Sumut Ir. Herianto, M.Si; serta dua peneliti dari USU, yakni Dr. Achmad Siddik Thoha, S.Hut., M.Si., dan Shahnaz Dwi Pasha, S.Hut.
Dalam pemaparannya, Dr. Achmad Siddik Thoha menyoroti ancaman slow-onset disaster seperti kekeringan, abrasi pantai, kenaikan muka laut, dan kebakaran hutan yang dampaknya sering kali diabaikan karena bersifat perlahan namun berjangka panjang.
“Bencana perlahan seperti abrasi dan kekeringan memerlukan pendekatan berbasis data dan riset agar strategi adaptasi benar-benar sesuai dengan kondisi lokal,” ujar Dr. Achmad.
Ia juga memaparkan hasil kajian Puska PIMB Fahutan USU yang menunjukkan adanya degradasi ekosistem di kawasan pesisir dan pegunungan yang berdampak pada ketahanan lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat. Salah satu contoh keberhasilan adaptasi yang dipaparkan adalah restorasi mangrove di Pantai Sejarah, Kabupaten Batubara, yang kini berfungsi ganda sebagai kawasan ekowisata dan edukasi lingkungan.
Selain itu, Puska PIMB juga mendorong pentingnya penguatan sistem peringatan dini, restorasi ekosistem gambut dan mangrove, serta penerapan tata ruang berbasis risiko bencana. Upaya ini diharapkan menjadi bagian dari strategi adaptasi jangka panjang menghadapi perubahan iklim di Sumatera Utara.
Melalui forum ini, berbagai rekomendasi strategis dihasilkan untuk memperkuat white paper kebijakan ketahanan bencana 2045. Sinergi lintas sektor antara akademisi, pemerintah, dan lembaga riset diharapkan dapat memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi risiko iklim, sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga nilai ekonomi dan ekologis alam, termasuk hutan dan mangrove sebagai penyangga kehidupan.