home icon
search icon
menu icon

> Berita > Kolaborasi APHI dan Fakultas Kehutanan USU Dorong Arah Baru Industri Kehutanan Nasional yang Berkelanjutan

Kolaborasi APHI dan Fakultas Kehutanan USU Dorong Arah Baru Industri Kehutanan Nasional yang Berkelanjutan

Dipublikasi Pada

23 Desember 2025

Dipublikasi Oleh

Wanda Afnes Rahmatika, S.Hut

Kolaborasi APHI dan Fakultas Kehutanan USU Dorong Arah Baru Industri Kehutanan Nasional yang Berkelanjutan
Thumbnail Kolaborasi APHI dan Fakultas Kehutanan USU Dorong Arah Baru Industri Kehutanan Nasional yang Berkelanjutan
Fakultas Kehutanan USU dan APHI memperkuat kolaborasi akademisi–industri dalam merespons tantangan dan peluang transformasi kehutanan nasional berbasis keberlanjutan dan riset ilmiah.

HUMAS FAHUTAN - Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) menjadi tuan rumah pertemuan strategis dengan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) sebagai bagian dari penguatan sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku industri kehutanan. Pertemuan ini difokuskan pada diskusi mengenai perubahan lanskap pengelolaan hutan nasional serta kebutuhan transformasi sektor kehutanan agar mampu menjawab tantangan lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berimbang.

 

Pertemuan tersebut berlangsung di Kampus Fakultas Kehutanan USU, pada Senin, 22 Desember 2025. Ketua Umum APHI, Dr. Ir. H. Soewarso, M.Si., IPU., hadir bersama Sekretaris Jenderal APHI, Ir. Purwadi Soeprihanto, S.Hut., M.E., dan Wakil Ketua Komite Humas dan Kerja Sama APHI, Trisia Megawati Kusuma Dewi, S.Sos., M.Si. Rombongan APHI diterima langsung oleh Dekan Fakultas Kehutanan USU, Prof. Dr. Ir. Rudi Hartono, S.Hut., M.Si., IPM., didampingi dosen Fakultas Kehutanan USU.

 

 

Dalam diskusi yang berlangsung terbuka, Soewarso menyampaikan bahwa sektor kehutanan Indonesia tengah menghadapi perubahan besar yang menuntut penyesuaian strategi pengelolaan. Ia menilai bahwa dinamika global, tuntutan keberlanjutan, serta meningkatnya perhatian terhadap aspek sosial dan lingkungan telah mengubah cara pandang terhadap industri kehutanan.

 

Menurutnya, pendekatan pengelolaan hutan yang selama ini berorientasi pada produksi kayu perlu dikaji ulang agar lebih adaptif terhadap kondisi saat ini. Pengelolaan hutan tanaman industri, misalnya, dinilai masih memiliki peluang pengembangan, namun memerlukan tata kelola yang lebih inklusif dan sensitif terhadap kondisi sosial di sekitar kawasan hutan.

 

Lebih jauh, Soewarso menekankan pentingnya pengembangan model usaha kehutanan yang lebih beragam. Optimalisasi jasa lingkungan, pemanfaatan hasil hutan nonkayu, serta pengembangan komoditas berbasis kehutanan bernilai ekonomi tinggi dinilai dapat menjadi alternatif penguatan sektor ini. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong manfaat ekonomi tanpa mengabaikan fungsi ekologis hutan.

 

Selain itu, isu pengelolaan risiko kebencanaan dan penataan kembali pengelolaan hutan alam turut menjadi perhatian dalam diskusi. Upaya penanaman kayu pertukangan secara berkelanjutan disebut sebagai salah satu langkah strategis jangka panjang untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan pelestarian sumber daya hutan.

 

Dalam konteks penguatan kebijakan, APHI menilai peran akademisi sangat penting sebagai mitra strategis. Kolaborasi berbasis riset dan kajian ilmiah diperlukan untuk mendukung perumusan kebijakan kehutanan yang lebih komprehensif, termasuk dalam penyelesaian persoalan tata kelola dan peningkatan daya saing industri kehutanan nasional.

 

Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Kehutanan USU, Rudi Hartono, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi kunci dalam menyiapkan solusi kehutanan masa depan. Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, fakultas berkomitmen untuk terus menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan kehutanan berkelanjutan.

 

Ia menambahkan bahwa isu perubahan iklim, konservasi sumber daya alam, serta pengelolaan karbon merupakan tantangan lintas sektor yang memerlukan pendekatan ilmiah dan kolaboratif. Oleh karena itu, transformasi pengelolaan hutan menuju sistem multiusaha kehutanan perlu dipahami sebagai bagian dari agenda strategis jangka panjang.

 

Fakultas Kehutanan USU, lanjutnya, membuka ruang dialog dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk asosiasi industri, sebagai upaya bersama dalam mendorong pengelolaan hutan yang produktif, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keberlanjutan.

 

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan APHI ke institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Melalui forum-forum tersebut, APHI berupaya menjaring pandangan akademisi guna memperkaya perspektif dalam merumuskan arah pembangunan kehutanan nasional yang inklusif, adaptif, dan selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Berita