home icon
search icon
menu icon

> Berita > Gandeng 4 Perguruan Tinggi Nasional dan Internasional, USU Laksanakan Abdimas Internasional di Pamah Simelir, Langkat

Gandeng 4 Perguruan Tinggi Nasional dan Internasional, USU Laksanakan Abdimas Internasional di Pamah Simelir, Langkat

Dipublikasi Pada

22 Juli 2024

Dipublikasi Oleh

Anonymous Writer

Gandeng 4 Perguruan Tinggi Nasional dan Internasional, USU Laksanakan Abdimas Internasional di Pamah Simelir, Langkat
Thumbnail Gandeng 4 Perguruan Tinggi Nasional dan Internasional, USU Laksanakan Abdimas Internasional di Pamah Simelir, Langkat
Universitas Sumatera Utara (USU) kembali melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Kemitraan Internasional di kawasan penyangga Taman Nasinoal Gunung Leuser (TNGL), Pamah Semelir, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dalam rangka meningkatkan kiprah di kancah internasional. Tak tanggung-tanggung, kegiatan ini dilaksanakan dengan menggandeng empat perguruan tinggi nasional dan internasional. Perguruan tinggi yang turut serta dalam kegiatan ini adalah beberapa perguruan tinggi dari Malaysia, seperti UiTM, UPM, dan UM, serta perguruan tinggi nasional yaitu Universitas Labuhanbatu.

       Universitas Sumatera Utara (USU) kembali melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Kemitraan Internasional di kawasan penyangga Taman Nasinoal Gunung Leuser (TNGL), Pamah Semelir, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dalam rangka meningkatkan kiprah di kancah internasional. Tak tanggung-tanggung, kegiatan ini dilaksanakan dengan menggandeng empat perguruan tinggi nasional dan internasional. Perguruan tinggi yang turut serta dalam kegiatan ini adalah beberapa perguruan tinggi dari Malaysia, seperti UiTM, UPM, dan UM, serta perguruan tinggi nasional yaitu Universitas Labuhanbatu. Di samping pengabdian kepada masyarakat, kegiatan  ini juga menjadi salah satu upaya pembinaan bagi perguruan tinggi sekitar. Mitra yang berperan dalam pelaksanaan kegiatan Abdimas Internasional ini adalah masyarakat penggiat konservasi bambu di kawasan penyangga TNGL yang tergabung dalam Komunitas Bambu Lestari (KBL). Komunitas pro-konservasi ini diketuai oleh Purnama Ginting, salah satu tokoh masyarakat di Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat. 


       Tim Abdimas Internasional kali ini diisi oleh para dosen dari Sekolah Pascasarjana, Fakultas Kehutanan, dan Fakultas Pertanian USU yang terdiri dari Prof. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., Ph.D, Prof. Abdul Rauf, Prof. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si, Dr. T. Alief At Thoriq, dan Ridahati Rambey, S.Hut., M.Si. Sedangkan dosen mitra internasional terdiri dari Prof. M Nazip Suratman, Prof. Seca Gandaseca, Dr. Muhammad Fuad Abdullah, dan Prof. Muhammad Hasmadi Ismail yang merupakan dosen UiTM dan UPM Malaysia. Dalam kegiatan ini, USU juga menggandeng Fitra Syawal Harahap, M.Agr yang mewakili Universitas Labuhan Batu.

 
       Sebagai kordinator pelaksana, Prof. Rahmawaty menjelaskan bahwa program ini didanai oleh Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sumatera Utara. Dengan terlaksananya program ini, USU berharap dapat berperan langsung dan ikut melaksanakan konservasi sumber daya alam dan lingkungan, sekaligus membangun kemitraan strategis dengan berbagai perguruan tinggi mitra nasional maupun internasional. Dalam pemaparannya, Prof. Rahmawaty juga menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan institusi lokal berbasis masyarakat agar semakin berdaya dan berkelanjutan dalam mengembangkan berbagai program pengelolaan sumber daya alam secara lestari dan memiliki manfaat ekonomi yang tinggi. Selain berdiskusi dengan berbagai pihak, kegiatan ini juga diisi dengan penanaman berbagai jenis bambu pada lahan kritis yang berada di kawasan sekitar desa. Di samping itu, USU juga membantu membangun kembali berbagai sarana ekowisata berbasis pemanfaatan ekosistem bambu yang sempat melemah dan hampir jatuh akibat dampak dari Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 hingga 2022 silam. 

Tim Abdimas USU juga memberikan fasilitas berupa peningkatan keterampilan produksi kepada anggota komunitas dalam memanfaatkan bambu yang cenderung melimpah di desa tersebut. Bambu-bambu tersebut diolah menjadi berbagai produk kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi, seperti miniatur kapal, hiasan, asbak, dan bentuk kerajinan lainnya. Berbagai produk yang dihasilkan dinilai memiliki estetika yang tinggi. Hal ini turut meningkatkan nilai jual dari berbagai produk yang dihasilkan. Kegiatan ekowisata yang ditawarkan serta produk yang dihasilkan melalui komunitas ini menjadi salah satu komoditas pendukung dalam pengembangan sektor pariwisata yang tengah bangkit di kawasan ini. 
 

Berita