> Berita > Fahutan USU dan Balitbang Labura Ungkap Strategi Besar Selamatkan Mangrove yang Terancam Abrasi 42 Km
Fahutan USU dan Balitbang Labura Ungkap Strategi Besar Selamatkan Mangrove yang Terancam Abrasi 42 Km
Dipublikasi Pada
28 Oktober 2025
Dipublikasi Oleh
Wanda Afnes Rahmatika, S.Hut
Thumbnail Fahutan USU dan Balitbang Labura Ungkap Strategi Besar Selamatkan Mangrove yang Terancam Abrasi 42 Km
Fakultas Kehutanan USU bersama Balitbang Labuhanbatu Utara memaparkan hasil kajian strategis pengelolaan mangrove. Kajian mengungkap abrasi lebih dari 42 km garis pantai, hilangnya 330 ha daratan, serta rekomendasi rehabilitasi dan silvofishery.
HUMAS FAHUTAN — Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) bersama Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Labuhanbatu Utara memaparkan hasil kajian terbaru terkait strategi pengelolaan ekosistem mangrove di Pesisir Pantai Timur Labuhanbatu Utara. Pemaparan dilakukan dalam seminar hasil penelitian di Aula Ridho Yaman, Kantor Bupati Labura, Selasa (30/9/2025).
Kegiatan ini dihadiri Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Labura Muhammad Ikhwan Lubis, S.T., M.T.; Kepala Balitbang Mahalenawaty Siregar, S.T., M.Si.; Ketua Tim Peneliti USU Dr. Achmad Siddik Thoha, S.Hut., M.Si.; Kepala Bidang Pembangunan, Inovasi, dan Teknologi Dewi Sartika Ritonga, S.E., M.M., KPH V Aek Kanopan, Camat Kualuh Hilir, Camat Kualuh Leidong, dan seluruh kepala desa dan lurah se Kecamatan Kualuh Hilir dan Kualuh Leidong.
Mangrove Luas 1.822 Ha, Namun Tertekan Laju Abrasi dan Ekspansi Lahan
Dalam paparannya, Dr. Achmad Siddik Thoha menjelaskan bahwa luas ekosistem mangrove di Labuhanbatu Utara tercatat mencapai 1.822 hektare, tersebar di Kecamatan Kualuh Leidong dan Kualuh Hilir. Desa Tanjung Mangedar menjadi kawasan terbesar dengan 1.074 hektare, diikuti Simandulang (308 ha) dan Tanjung Leidong (207 ha). Vegetasi didominasi Avicennia marina yang berfungsi penting menahan abrasi dan mendukung keanekaragaman hayati pesisir.
Namun, kondisi ini mengalami tekanan signifikan. Analisis spasial menunjukkan ekspansi perkebunan meningkat dari 29 ribu hektare menjadi 56 ribu hektare dalam periode 2006–2023. Dampaknya, tiga desa pesisir — Tanjung Leidong, Teluk Pulai Luar, dan Tanjung Mangedar — mengalami abrasi rata-rata 2,16 meter per tahun, dengan kehilangan daratan mencapai 330 hektare. Total garis pantai terdampak abrasi membentang hingga 42.479 meter.
Tanda Pemulihan Alami Mulai Muncul
Di tengah tekanan tersebut, tim peneliti menemukan bukti pemulihan alami di beberapa titik, terutama di kawasan Pulau Burung. Vegetasi mangrove di area ini menunjukkan peningkatan biomassa sebesar 517,24 Mg/ha dan stok karbon mencapai 258,62 Mg/ha, mengonfirmasi peran mangrove sebagai penyerap karbon penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Tiga Strategi Penyelamatan Mangrove
Untuk memastikan keberlanjutan ekosistem, tim peneliti Fakultas Kehutanan USU merekomendasikan tiga strategi utama:
1. Rehabilitasi dan penanaman kembali mangrove pada wilayah dengan tingkat abrasi tinggi seperti Simandulang dan Teluk Pulai Luar.
2. Penerapan silvofishery, yaitu integrasi sistem tambak dengan hutan mangrove untuk menjaga keseimbangan konservasi dan peningkatan ekonomi masyarakat.
3. Penguatan kolaborasi multipihak, melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas pesisir dalam pengelolaan berbasis ekosistem.
Dr. Achmad Siddik Thoha menegaskan bahwa mangrove tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga berdampak langsung pada perekonomian masyarakat pesisir melalui kegiatan budidaya kepiting hingga wisata alam.
Komitmen USU untuk Pesisir Berkelanjutan
Melalui penelitian ini, Fakultas Kehutanan USU menegaskan komitmennya dalam mendukung kebijakan pembangunan berketahanan iklim, sekaligus memperkuat dasar ilmiah terkait tata ruang dan pengelolaan pesisir berkelanjutan di Kabupaten Labuhanbatu Utara.