home icon
search icon
menu icon

> Berita > ECOREST: Aksi Mahasiswa USU Menjaga Batang Toru, Harmoni Alam, dan Adat di Era Modern

ECOREST: Aksi Mahasiswa USU Menjaga Batang Toru, Harmoni Alam, dan Adat di Era Modern

Dipublikasi Pada

22 September 2025

Dipublikasi Oleh

Wanda Afnes Rahmatika, S.Hut

ECOREST: Aksi Mahasiswa USU Menjaga Batang Toru, Harmoni Alam, dan Adat di Era Modern
Thumbnail ECOREST: Aksi Mahasiswa USU Menjaga Batang Toru, Harmoni Alam, dan Adat di Era Modern
ECOREST adalah inisiatif mahasiswa USU untuk menjawab tantangan konservasi di Hutan Batang Toru. Melalui empat pilar utama—Eco-Learn, Responsible Action, Sustainable Solution, dan Transformation—program ini menghubungkan masyarakat adat, generasi muda, dan pemerintah untuk bersama-sama menjaga hutan sekaligus melestarikan budaya.

HUMAS FAHUTAN — Di tengah tantangan besar konservasi, sekelompok mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) menghadirkan terobosan lewat program ECOREST (Eco-Learn, Responsible Action, Sustainable Solution, and Transformation). Gerakan ini dirancang untuk menjembatani masyarakat adat dan pemerintah dalam merawat Hutan Batang Toru, salah satu ekosistem penting dunia sekaligus habitat Orangutan Tapanuli, primata paling langka di planet ini.

 

Hutan Batang Toru yang membentang lebih dari 133 ribu hektar di Sumatera Utara bukan hanya penyerap karbon global, tetapi juga rumah bagi flora, fauna, dan masyarakat adat yang telah lama hidup berdampingan dengan hutan. Namun, benturan antara kebutuhan konservasi dan hak-hak masyarakat adat kerap menciptakan dilema pengelolaan.

 

 

Melalui ECOREST, mahasiswa USU menawarkan empat pilar utama: Eco-Learn, Responsible Action, Sustainable Solution, dan Transformation. Program ini menyasar generasi muda sekaligus masyarakat adat sebagai garda depan perubahan.

 

  • Eco-Learn: edukasi untuk anak-anak sekolah dasar di Desa Sialogo dan Desa Tapian Nauli Saur Manggita, menggabungkan ilmu pengetahuan modern dengan kearifan lokal.

  • Responsible Action: mendorong aksi nyata, seperti gotong royong membersihkan lingkungan dan menanam pohon.

  • Sustainable Solution: merancang pengelolaan hutan berkelanjutan dengan menggabungkan sistem pertanian rotasi adat dan sains modern.

  • Transformation: memperjuangkan lahirnya kebijakan yang lebih inklusif, berpihak pada masyarakat adat sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Seringkali kita lupa bahwa ketika membicarakan masa depan Hutan Batang Toru dan orangutannya, kita juga harus membicarakan masa depan manusianya... Di ECOREST, kami ingin membalikkan logika itu. Dengan mendukung anak-anak muda di sana untuk menghargai tradisi mereka, kami yakin kita bisa menjaga semuanya sekaligus: hutannya, satwanya, dan budayanya,” ujar Natasya Martiana Priyani Sipayung, Ketua Tim ECOREST.

 

Evaluasi awal menunjukkan hasil yang menjanjikan. Pemahaman anak-anak meningkat signifikan setelah mengikuti program, dengan semangat baru menjaga lingkungan dan mempraktikkan aksi kolektif.

 

Tidak hanya di lapangan, tim ECOREST juga aktif menyuarakan pesan konservasi melalui media sosial. Akun Instagram @ecorest.id telah menarik perhatian generasi muda dengan konten kreatif seputar lingkungan.

 

Kini, ECOREST melangkah lebih jauh dengan menyusun rekomendasi kebijakan untuk pemerintah dan modul pendidikan konservasi yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Inisiatif ini membuktikan bahwa solusi lingkungan tidak selalu datang dari teknologi canggih, tetapi dari kepedulian generasi muda, kolaborasi lintas komunitas, dan keberanian merawat alam.

 

Dengan ECOREST, harapan untuk melihat Hutan Batang Toru yang lebih hijau, lestari, dan harmonis semakin nyata.

Berita