home icon
search icon
menu icon

> Berita > Dosen USU Ungkap Krisis Iklim Nyata Terjadi, Deforestasi Dinilai Perparah Banjir Sumatera

Dosen USU Ungkap Krisis Iklim Nyata Terjadi, Deforestasi Dinilai Perparah Banjir Sumatera

Dipublikasi Pada

31 Desember 2025

Dipublikasi Oleh

Wanda Afnes Rahmatika, S.Hut

Dosen USU Ungkap Krisis Iklim Nyata Terjadi, Deforestasi Dinilai Perparah Banjir Sumatera
Thumbnail Dosen USU Ungkap Krisis Iklim Nyata Terjadi, Deforestasi Dinilai Perparah Banjir Sumatera
Krisis iklim dinilai telah nyata terjadi dan diperparah oleh deforestasi yang melemahkan fungsi hutan sebagai penyangga lingkungan. Dosen Fakultas Kehutanan USU menegaskan pentingnya perlindungan hutan dan kebijakan tata ruang untuk mengurangi risiko banjir di Sumatera.

HUMAS FAHUTAN — Krisis iklim tidak lagi sekadar proyeksi ilmiah, melainkan telah nyata dirasakan dan berdampak langsung terhadap meningkatnya bencana banjir di Sumatera. Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Achmad Siddik Thoha, yang menilai kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor utama yang memperparah dampak cuaca ekstrem.

 

Menurut Achmad, deforestasi yang masif—terutama untuk kepentingan perkebunan dan pertambangan—telah melemahkan fungsi ekologis hutan sebagai sistem penyangga kehidupan. Padahal, hutan memiliki peran krusial dalam mengatur tata air dan meredam dampak curah hujan tinggi yang kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

 

Ia menegaskan bahwa hutan bukan hanya ruang hidup bagi manusia dan keanekaragaman hayati, tetapi juga benteng alami dalam mencegah bencana hidrometeorologi. Ketika tutupan hutan terus berkurang, kemampuan lingkungan untuk merespons hujan ekstrem ikut menurun, sehingga risiko banjir bandang dan longsor semakin meningkat di berbagai wilayah.

 

Selain faktor lingkungan, Achmad juga menyoroti pentingnya penguatan kebijakan tata ruang yang berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan. Ia menilai banyak kawasan terdampak banjir berada di wilayah yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi permukiman, seperti bantaran sungai dan kawasan lindung, namun tetap dibiarkan berkembang tanpa pengendalian yang memadai.

 

Dalam konteks penanggulangan bencana, Achmad menekankan peran strategis perguruan tinggi melalui pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menyebutkan bahwa Fakultas Kehutanan USU terus mendorong pengembangan kajian perubahan iklim, mitigasi bencana, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar siap berkontribusi pada fase prabencana, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana.

 

Pandangan tersebut disampaikan Achmad Siddik Thoha dalam wawancara dengan Tempo.co yang dipublikasikan pada 14 Desember 2025, yang mengulas secara mendalam kondisi krisis iklim, laju deforestasi, serta dampaknya terhadap bencana banjir di sejumlah wilayah Sumatera.

 

 

Sumber: Diolah dari wawancara Tempo.co, 14 Desember 2025.

Berita