home icon
search icon
menu icon

> Berita > Bioprospeksi Jadi Wajah Baru Konservasi: Kuliah Umum Fakultas Kehutanan USU Hadirkan Pakar Nasional dan Internasional

Bioprospeksi Jadi Wajah Baru Konservasi: Kuliah Umum Fakultas Kehutanan USU Hadirkan Pakar Nasional dan Internasional

Dipublikasi Pada

18 September 2025

Dipublikasi Oleh

Wanda Afnes Rahmatika, S.Hut

Bioprospeksi Jadi Wajah Baru Konservasi: Kuliah Umum Fakultas Kehutanan USU Hadirkan Pakar Nasional dan Internasional
Thumbnail Bioprospeksi Jadi Wajah Baru Konservasi: Kuliah Umum Fakultas Kehutanan USU Hadirkan Pakar Nasional dan Internasional
“Kuliah umum Fakultas Kehutanan USU bertema Bioprospeksi dan Peluang Bisnis Konservasi menghadirkan pakar nasional dan internasional, membahas peran bioprospeksi sebagai jembatan antara konservasi dan peluang ekonomi berkelanjutan.”

HUMAS FAHUTAN – Konservasi kini bukan hanya soal menjaga hutan dan satwa liar, melainkan juga membuka peluang besar dalam bidang ekonomi berkelanjutan. Pesan itu mengemuka dalam Kuliah Umum bertajuk “Bioprospeksi dan Peluang Bisnis Konservasi” yang digelar Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Kamis (18/9).

 

Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-11 Fakultas Kehutanan dan ke-26 Program Studi Kehutanan USU ini menghadirkan sejumlah pakar di bidang konservasi. Panut Hadisiswoyo, SS., MA., M.Sc. (Orangutan Information Centre/OIC) dan Ian Singleton, Ph.D., O.B.E. (PT. Orangutan Haven) tampil sebagai pembicara utama. Keduanya dikenal luas sebagai tokoh konservasi orangutan di Sumatra dan aktif dalam mengembangkan model pelestarian yang melibatkan masyarakat.

 

Sebagai keynote speaker, hadir Nunu Anugrah, S.Hut., M.Sc., Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik, Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Nunu menegaskan bahwa bioprospeksi—yakni eksplorasi sumber daya hayati untuk tujuan ilmiah maupun komersial—menjadi peluang baru yang dapat menjembatani konservasi dengan dunia usaha.

 

 

“Konservasi keanekaragaman hayati harus dilihat sebagai aset bangsa. Dengan pendekatan bioprospeksi, kita bisa mengoptimalkan potensi hayati Indonesia secara lestari, sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang membawa manfaat bagi masyarakat,” ujar Nunu dalam paparannya.

 

Acara kuliah umum ini dibuka oleh Dr. Ir. Alfan Gunawan Ahmad, S.Hut., M.Si., Wakil Dekan I Fakultas Kehutanan USU. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran para narasumber serta berharap kegiatan semacam ini dapat berlanjut dan ditindaklanjuti dalam bentuk kerja sama nyata.

 

 

“Mudah-mudahan kuliah umum ini tidak menjadi yang pertama dan terakhir. Setelah kita mendapat banyak pencerahan dari para narasumber, besar harapan kami akan ada tindak lanjut bersama, baik dengan Kementerian Kehutanan, para praktisi, maupun mitra lain yang ada di sekitar kita,” ujar Alfan.

 

Diskusi semakin menarik ketika para pembicara menyinggung soal keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya konservasi. Panut Hadisiswoyo menekankan bahwa bioprospeksi harus dipahami secara lebih luas, bukan sekadar pemanfaatan sumber daya alam.

 

 

“Bioprospeksi bukan sekadar eksploitasi kekayaan alam, melainkan jembatan yang menghubungkan konservasi, ilmu pengetahuan, dan peluang bisnis kehutanan. Dengan cara inilah kita bisa menjaga keberlanjutan sekaligus membuka manfaat ekonomi,” jelas Panut.

 

Sementara itu, Ian Singleton menegaskan bahwa pelestarian hutan tidak hanya berdampak pada aspek spiritual dan moral, tetapi juga memberikan keuntungan nyata dalam jangka panjang bagi perekonomian.

 

 

“Jika kita menyelamatkan hutan dan menjaga sumber daya alam yang ada di dalamnya, sesungguhnya kita sedang berinvestasi. Dalam jangka panjang, keuntungan ekonomi yang diperoleh jauh lebih besar, bukan hanya manfaat spiritual atau kepuasan moral semata,” ungkap Ian.

 

Moderator acara, Dr. Ir. Pindi Patana, S.Hut., M.Sc., IPU dari Fakultas Kehutanan USU, menyebutkan bahwa kuliah umum ini tidak hanya memberi wawasan akademis, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana generasi muda, khususnya mahasiswa kehutanan, bisa berperan dalam menjawab tantangan konservasi di era perubahan iklim dan tuntutan pembangunan.

 

 

Acara ini berlangsung di Aula Fakultas Kehutanan USU dan dihadiri ratusan mahasiswa, dosen, serta pegiat lingkungan baik secara luring maupun daring. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan terkait strategi mengembangkan konservasi yang adaptif sekaligus menguntungkan secara ekonomi.

 

 

Kuliah umum ini diharapkan menjadi momentum penting bagi USU untuk terus memperkuat perannya sebagai pusat kajian lingkungan dan konservasi di Sumatera. Dengan menghadirkan perspektif nasional dan internasional, Fakultas Kehutanan USU berupaya menegaskan bahwa konservasi adalah masa depan yang tidak hanya menyelamatkan alam, tetapi juga membuka jalan bagi inovasi bisnis yang berkelanjutan.

Berita