HUMAS FAHUTA – Universitas Sumatera Utara (USU) terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan desa berbasis potensi lokal. Melalui program Desa Binaan Fakultas Kehutanan dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), USU resmi meluncurkan Desa Ekowisata di Dusun Lau Buluh Lepar, Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (10/8/2026).
Program tersebut menjadi langkah strategis USU dalam mendorong Dusun Lau Buluh Lepar berkembang sebagai desa mandiri di kawasan penyangga Leuser dengan mengintegrasikan penguatan ekonomi masyarakat, konservasi sumber daya alam, agroforestri, ketahanan pangan, serta pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.
Kegiatan Desa Binaan ini dilaksanakan melalui dua program utama yang saling melengkapi. Program pertama bertajuk “Akselerasi Ekonomi Hijau di Dusun Lau Buluh Lepar: Pemberdayaan Masyarakat melalui Pemanfaatan Tanaman MPTS dan Optimalisasi Jasa Lingkungan”. Program ini diketuai Prof. Mohammad Basyuni, S.Hut., M.Si., Ph.D., dengan Dr. Agr. Faujiah Nurhasanah Ritonga, S.Hut., M.Si. sebagai Koordinator 1.
Tim pelaksana program pertama terdiri atas Dr. Deni Elfiati, S.P., M.P.; Dr. Oding Affandi, S.Hut., M.P.; Dr. Iwan Risnasari, S.Hut., M.Si.; Dr. Bejo Slamet, S.Hut., M.Si.; Ir. Netti Herlina, M.T.; dan Ipanna Enggar Susetya, S.Kel., M.Si.
Sementara itu, program kedua mengusung tema “Revitalisasi Kawasan Penyangga Leuser: Pengembangan Ekowisata dan Penguatan Ketahanan Pangan Masyarakat Lau Buluh Lepar melalui Penanaman MPTS”. Program ini juga diketuai Prof. Mohammad Basyuni, S.Hut., M.Si., Ph.D., dengan Dr. Erni Jumilawaty, S.Si., M.Si. sebagai Koordinator 2.
Tim pelaksana program kedua terdiri atas Prof. Dr. Etti Sartina Siregar, S.Si., M.Si.; Arif Nuryawan, S.Hut., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. Delvian, S.P., M.P.; Dr. Nelly Anna, S.Hut., M.Si.; Dr. Nurdin Sulistiyono, S.Hut., M.Si.; dan Ameilia Zuliyanti Siregar, S.Si., M.Sc., Ph.D.
Menguatkan Ekonomi Sekaligus Menjaga Alam
Dalam rangkaian launching, tim USU bersama masyarakat melaksanakan sejumlah kegiatan yang mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi. Salah satunya adalah penetapan lubuk larangan sebagai bentuk konservasi sumber daya perairan berbasis kearifan lokal masyarakat.
Kegiatan juga dilakukan melalui penanaman Multi-Purpose Tree Species (MPTS), yakni jenis tanaman yang memiliki beragam manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung fungsi ekologis kawasan. Pengembangan MPTS diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan, menjaga lingkungan, serta membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat melalui pemanfaatan hasil tanaman secara berkelanjutan.
Tidak hanya mengembangkan aspek agroforestri, USU juga mendorong pemanfaatan potensi lokal sebagai bagian dari pengembangan ekowisata. Salah satunya melalui pengenalan plosotan bambu yang memanfaatkan sumber daya lokal dan dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata berbasis alam dan kreativitas masyarakat.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata tidak semata-mata berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Mahasiswa Turut Belajar Bersama Masyarakat
Program Desa Binaan USU turut melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman. Sebanyak delapan mahasiswa, terdiri atas empat mahasiswa Program Studi S-1 Kehutanan dan empat mahasiswa Program Studi S-1 Biologi, terlibat langsung dalam kegiatan pengembangan desa selama delapan hari.
Keterlibatan mahasiswa menjadi kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di ruang akademik dengan kondisi nyata di lapangan. Bersama masyarakat, mahasiswa belajar memahami potensi, kebutuhan, serta tantangan pengelolaan sumber daya alam sekaligus berkontribusi dalam pelaksanaan program pengembangan desa.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama dalam pembangunan. Pengetahuan lokal dan potensi wilayah menjadi bagian penting dalam merancang program yang sesuai dengan karakteristik desa dan mampu memberikan manfaat jangka panjang.
Menuju Desa Mandiri Penyangga Leuser
Integrasi agroforestri MPTS, konservasi sumber daya alam, optimalisasi jasa lingkungan, ketahanan pangan, pemanfaatan bambu, dan pengembangan ekowisata menjadi fondasi dalam mendorong Lau Buluh Lepar sebagai model desa mandiri di kawasan penyangga Leuser.
Kolaborasi antara USU dan masyarakat juga diharapkan terus berkembang dengan melibatkan pemerintah daerah serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Sinergi tersebut penting untuk memastikan program tidak berhenti pada tahap launching, tetapi berlanjut melalui pendampingan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan potensi desa secara berkelanjutan.
Inisiatif ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim, SDGs 15: Ekosistem Daratan, dan SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui pendekatan yang memadukan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat, Dusun Lau Buluh Lepar diharapkan tumbuh menjadi desa yang mampu menjaga kekayaan alam sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dari kawasan penyangga Leuser, USU bersama masyarakat membangun sebuah gagasan sederhana namun penting: bahwa menjaga alam dan meningkatkan kesejahteraan bukanlah dua tujuan yang harus dipilih salah satunya, melainkan dapat berjalan bersama melalui kolaborasi dan pengelolaan yang berkelanjutan.
PTPN IV Uji Sampel Kayu di Laboratorium Fahutan USU
BeritaFahutan USU Bekali Calon Wisudawan dengan Perspektif Karier dan Peran Alumni
BeritaLaksanakan Musyawarah Besar, Rimbapala Fahutan USU Mantapkan Langkah Menuju Organisasi Unggul