HUMAS FAHUTA – Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (Fahutan USU) menerima kunjungan NSHE dalam rangka membahas rencana pengembangan Hutan Pendidikan di kawasan Batang Toru, Rabu, 30 September 2026. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Fakultas Kehutanan USU tersebut menjadi ruang diskusi untuk mengenalkan potensi kawasan sekaligus membuka peluang pengembangan pembelajaran kehutanan berbasis lapangan.

Pertemuan diawali dengan pembukaan oleh Dr. Anita Zaitunah, S.Hut., M.Sc. yang menyampaikan sambutan sekaligus membuka sesi perkenalan antara NSHE dan jajaran Fakultas Kehutanan USU. Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Kehutanan USU Prof. Dr. Arida Susilowati, S.Hut., M.Si., Dr. Anita Zaitunah, serta perwakilan Fahutan USU lainnya.

Dalam pemaparannya, perwakilan NSHE, Iqbal, menjelaskan kondisi tutupan lahan di kawasan Batang Toru serta kekayaan biodiversitas yang terdapat di dalamnya. Kawasan tersebut menjadi habitat berbagai jenis satwa dan tumbuhan, termasuk orangutan serta beragam jenis burung yang memiliki nilai penting bagi ekosistem hutan.

Dalam rencana pengembangan Hutan Pendidikan, kawasan yang dipersiapkan memiliki sejumlah fitur yang dinilai potensial sebagai ruang pembelajaran. Salah satunya adalah keberadaan hutan primer yang masih asri, yang dapat memberikan pengalaman belajar langsung mengenai ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati.

Selain hutan primer, kawasan tersebut juga memiliki jembatan koridor satwa serta kebun masyarakat. Keberadaan berbagai elemen tersebut dinilai dapat menjadi sarana pembelajaran yang mempertemukan aspek konservasi, ekologi, pengelolaan hutan, hingga interaksi masyarakat dengan kawasan hutan.

Pengembangan kawasan juga diarahkan pada upaya membangun hubungan yang lebih harmonis antara fungsi konservasi dan aktivitas masyarakat. Salah satu rencana yang dibahas adalah penerapan buffer zone serta sistem agroforestri pada wilayah yang rawan konflik. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan kawasan yang tidak hanya memperhatikan kelestarian ekosistem, tetapi juga mempertimbangkan keberadaan dan kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan. Melalui agroforestri, masyarakat dapat memperoleh ruang untuk mengembangkan aktivitas produktif dengan tetap memperhatikan fungsi ekologis kawasan.

Bagi Fahutan USU, pemaparan tersebut menjadi informasi penting dalam melihat peluang pengembangan pembelajaran kehutanan yang lebih kontekstual. Hutan Pendidikan tidak hanya dapat menjadi ruang untuk mengenal ekosistem secara langsung, tetapi juga menjadi laboratorium alam untuk mempelajari biodiversitas, konservasi satwa liar, rehabilitasi hutan, agroforestri, serta hubungan antara masyarakat dan lingkungan.

Pertemuan antara NSHE dan Fahutan USU diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi penguatan komunikasi dan peluang kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, konservasi, serta pengembangan sumber daya manusia kehutanan. Dengan memanfaatkan potensi kawasan Batang Toru sebagai ruang belajar, pengalaman akademik dapat diarahkan tidak hanya pada pemahaman teori, tetapi juga pada pembentukan kepedulian dan kemampuan menghadapi persoalan kehutanan secara nyata.

Rencana pengembangan Hutan Pendidikan di Batang Toru tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui penguatan pembelajaran berbasis pengalaman dan lingkungan. Upaya konservasi biodiversitas, rehabilitasi kawasan, serta perlindungan habitat satwa juga mendukung SDG 15: Life on Land, sementara penerapan agroforestri dan penguatan hubungan dengan masyarakat turut mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals melalui kolaborasi multipihak dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.