HUMAS FAHUTAN – Mahasiswa HUT 2A Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Kebijakan Peraturan Kehutanan dengan tema “Isu Pemanasan Global: Carbon Trading sebagai Upaya Pengendalian Gas Rumah Kaca dan Sumber Peningkatan Pendapatan Negara dengan Mempertahankan Pengelolaan Berkelanjutan” pada Sabtu (20/6/2026) di Kampus 2 USU Kwala Bekala.
Kegiatan ini menjadi wadah akademik bagi mahasiswa dan peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai isu perubahan iklim, perdagangan karbon, serta peran strategis sektor kehutanan dalam mendukung pembangunan rendah karbon dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Seminar menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya, yaitu Yepta Jaya Sahputra Barus, S.Hut., Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Perhutanan Sosial Medan, serta Muammar BM, S.Hut., Program Manager Yayasan PETAI. Kegiatan berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif mahasiswa dan peserta yang mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai.
Dalam pemaparannya, Yepta Jaya Sahputra Barus menjelaskan bahwa perdagangan karbon merupakan salah satu instrumen penting dalam pengendalian emisi gas rumah kaca yang mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Ia menjelaskan bahwa peningkatan konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil, deforestasi, dan degradasi hutan, telah memicu berbagai dampak lingkungan, mulai dari kenaikan suhu global hingga perubahan pola cuaca yang semakin ekstrem.

Lebih lanjut, ia memaparkan berbagai kebijakan yang menjadi dasar pelaksanaan perdagangan karbon di Indonesia, termasuk komitmen nasional untuk mencapai target penurunan emisi melalui implementasi Nationally Determined Contribution (NDC) dan program FOLU Net Sink 2030. Program tersebut bertujuan untuk memastikan tingkat serapan karbon dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan mampu menyeimbangkan, bahkan melampaui, emisi yang dihasilkan.
“Pengelolaan hutan yang lestari, rehabilitasi kawasan hutan, restorasi gambut, dan rehabilitasi mangrove merupakan langkah strategis yang dapat meningkatkan kapasitas serapan karbon sekaligus menjaga fungsi ekologis lingkungan,” jelasnya.

Sementara itu, Muammar BM menyoroti pentingnya mekanisme Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) sebagai instrumen yang mampu memberikan nilai ekonomi terhadap upaya pengurangan emisi dari sektor kehutanan. Menurutnya, hutan tidak hanya memiliki fungsi ekologis sebagai penyerap karbon, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan melalui skema Nilai Ekonomi Karbon (NEK).
Ia menjelaskan bahwa implementasi REDD+ memerlukan dukungan berbagai aspek, mulai dari sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (Measurement, Reporting, and Verification/MRV), kelembagaan yang kuat, hingga keterlibatan aktif masyarakat lokal dan masyarakat adat sebagai pengelola langsung sumber daya hutan.
“Keberhasilan perdagangan karbon tidak hanya diukur dari manfaat ekonomi yang dihasilkan, tetapi juga dari manfaat sosial dan lingkungan yang mampu dirasakan oleh masyarakat secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta yang tinggi. Berbagai pertanyaan diajukan terkait strategi pencapaian target Net Zero Emission, peluang keterlibatan masyarakat dalam program karbon, efektivitas perdagangan karbon dalam mengatasi dampak perubahan iklim, hingga kontribusi yang dapat dilakukan mahasiswa kehutanan dalam mendukung pengembangan sektor karbon di Indonesia.
Melalui diskusi tersebut, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tantangan dan peluang implementasi perdagangan karbon di Indonesia, khususnya dalam mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Sebagai penutup kegiatan, Dr. Oding Affandi, S.Hut., M.P. selaku dosen pengampu mata kuliah memberikan apresiasi kepada panitia dan seluruh peserta yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan seminar. Acara kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada narasumber, sesi foto bersama, serta penutupan resmi oleh panitia.

Kegiatan seminar ini menunjukkan komitmen Fakultas Kehutanan USU dalam mendukung pengembangan wawasan mahasiswa terhadap isu-isu kehutanan global yang semakin relevan, khususnya terkait perubahan iklim, pengelolaan karbon, dan pembangunan berkelanjutan.
Pelaksanaan seminar ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui peningkatan pemahaman mengenai strategi mitigasi emisi gas rumah kaca dan perdagangan karbon; SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui penguatan peran hutan dalam konservasi dan peningkatan cadangan karbon; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemanfaatan Nilai Ekonomi Karbon yang berpotensi menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung pengelolaan hutan yang lestari.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Kehutanan USU terus mendorong lahirnya generasi rimbawan yang tidak hanya memahami aspek teknis kehutanan, tetapi juga mampu berkontribusi dalam menjawab tantangan global terkait perubahan iklim, konservasi sumber daya alam, dan pembangunan berkelanjutan.
