HUMAS FAHUTA - Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (Fahutan USU) menghadirkan ruang pembelajaran dan pertukaran pengetahuan lintas perguruan tinggi dan negara melalui kegiatan Inbound Lecture pada Senin, 28 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Fakultas Kehutanan USU tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik, baik dari dalam maupun luar negeri.

Peserta kegiatan berasal dari Fakultas Kehutanan USU, Fakultas Pertanian USU, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), serta mahasiswa internasional USU asal Nigeria. Kegiatan ini juga diikuti mahasiswa dari Filipina, Thailand, dan Pakistan, sehingga menciptakan ruang interaksi akademik yang mempertemukan beragam perspektif dan pengalaman.

Dalam kegiatan tersebut, tiga dosen Fahutan USU, yakni Dr. Anita Zaitunah, S.Hut., M.Sc., Dr. Bejo Slamet, S.Hut., M.Si., dan Mariah Ulfa, S.Hut., M.Sc., turut hadir dan membagikan pengetahuan dan perspektif akademik sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Salah satu materi disampaikan oleh Dr. Anita Zaitunah yang membahas peran dan pentingnya ruang terbuka hijau, pepohonan, serta lingkungan hijau di kawasan perkotaan. Dalam pemaparannya, Dr. Anita menjelaskan bahwa keberadaan pohon di perkotaan memiliki fungsi ekologis yang penting, tidak hanya sebagai elemen penghijauan, tetapi juga dalam mendukung kualitas kehidupan masyarakat.

Pepohonan dapat membantu meredam suara dan kebisingan, menyediakan udara yang lebih segar, menyaring polutan udara, serta menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa perkotaan. Karena itu, keberadaan ruang terbuka hijau menjadi bagian penting dalam membangun kawasan perkotaan yang lebih sehat, nyaman, dan berkelanjutan.

Pembahasan juga mengangkat pemanfaatan Geographic Information System (GIS) dan remote sensing dalam pengelolaan hutan kota. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memetakan dan memantau kondisi vegetasi serta menganalisis ruang terbuka hijau sebagai dasar dalam mendukung perencanaan dan pengelolaan kawasan perkotaan secara lebih efektif dan berbasis data.
Sementara itu, Dr. Bejo Slamet dan Mariah Ulfa turut memperkaya kegiatan melalui pemaparan materi sesuai bidang keilmuan masing-masing. Kehadiran ketiga dosen sebagai pemateri memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh wawasan yang lebih beragam mengenai kehutanan dan pengelolaan lingkungan dari perspektif akademik dan pengalaman penelitian.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan negara mengikuti pemaparan serta diskusi dengan penuh perhatian. Keberagaman peserta juga menciptakan ruang pertukaran gagasan yang dinamis, memungkinkan mahasiswa untuk tidak hanya belajar dari para pemateri, tetapi juga mengenal perspektif dan pengalaman akademik dari peserta lainnya.
Dari Ruang Akademik Menuju Forest Healing
Setelah mengikuti sesi inbound lecture, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan forest healing di Arboretum USU, yang berlokasi tidak jauh dari kawasan Kampus Kehutanan USU. Kegiatan ini memberikan pengalaman pembelajaran yang berbeda dengan membawa peserta lebih dekat kepada lingkungan hutan.
Sesampainya di arboretum, peserta menikmati suasana hutan yang asri, sejuk, dan tenang. Pepohonan yang menaungi kawasan tersebut menciptakan ruang alami yang memungkinkan peserta beristirahat sejenak dari aktivitas akademik sekaligus merasakan secara langsung manfaat keberadaan lingkungan hijau.
Salah satu aktivitas yang menarik perhatian peserta adalah tree hugging atau memeluk pohon. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari pengalaman forest healing yang mengajak peserta membangun kedekatan dan koneksi dengan alam melalui interaksi sederhana dengan pepohonan.
Bagi para peserta, pengalaman tersebut menjadi pelengkap pembelajaran yang telah diperoleh di ruang kelas. Jika inbound lecture memberikan ruang untuk memahami hutan melalui perspektif keilmuan, maka forest healing memberikan kesempatan untuk merasakan secara langsung ketenangan dan manfaat lingkungan hutan.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Fahutan USU menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga membangun pengalaman, interaksi, dan kesadaran terhadap lingkungan. Pertemuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan negara sekaligus menjadi momentum untuk memperluas jejaring akademik dan memperkuat semangat kolaborasi lintas budaya.
Kegiatan inbound lecture dan forest healing tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui penguatan pembelajaran dan pertukaran pengetahuan lintas perguruan tinggi dan negara. Kegiatan ini juga mendukung SDG 15: Life on Land melalui peningkatan kesadaran terhadap pentingnya ekosistem hutan dan pepohonan, serta SDG 13: Climate Action melalui pengenalan peran vegetasi dan ruang hijau dalam mendukung lingkungan yang berkelanjutan.