HUMAS FAHUTAN - Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) menjadi ruang bertemunya 60 generasi muda dalam Forest Youthverse Resilience Summit (FYV Resilience Summit) Wilayah Sumatera Utara, yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Badan P2SDM), bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, di Kampus 2 USU Bekala, Simalingkar A, Deli Serdang, Sabtu (3/10/2026).

Mengusung tema “Youth for Biodiversity Resilience: Generasi Muda Bergerak, Kekayaan Alam Terjaga”, kegiatan yang berlangsung selama 2–3 Oktober 2026 ini menjadi ruang pembelajaran, penguatan kapasitas, dan pengembangan gagasan bagi generasi muda untuk memahami konservasi hutan, keanekaragaman hayati, pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan, serta inovasi di bidang kehutanan.

Rangkaian FYV Resilience Summit diawali dengan pembelajaran lapangan di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Para peserta diajak mengenal kekayaan keanekaragaman hayati melalui pengamatan berbagai jenis tumbuhan dan satwa sekaligus memahami pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem secara langsung.

Pembelajaran tersebut dilanjutkan dengan kunjungan ke Manggala Agni Daops I Sibolangit. Di lokasi ini, peserta memperoleh edukasi mengenai pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengalaman lapangan tersebut memberikan perspektif yang lebih utuh kepada peserta mengenai tantangan konservasi, mulai dari perlindungan biodiversitas hingga upaya menghadapi ancaman terhadap ekosistem hutan.

Memasuki rangkaian kegiatan di Fakultas Kehutanan USU, para peserta dan tamu undangan disambut hangat oleh Dekan Fakultas Kehutanan USU, Prof. Dr. Arida Susilowati, S.Hut., M.Si., didampingi Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Internasionalisasi Dr. Anita Zaitunah, S.Hut., M.Sc., serta Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Kealumnian Dr. Tito Sucipto. Turut hadir dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Kehutanan USU.

Suasana kegiatan diawali dengan tarian Tor-Tor yang dibawakan oleh peserta, menciptakan atmosfer kebersamaan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada seluruh peserta. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Dekan Fakultas Kehutanan USU.

Dalam sambutannya, Prof. Arida menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kehutanan, BBKSDA Sumatera Utara, Pusgenri, Badan P2SDM, tim LEVERAGE, panitia, serta seluruh peserta yang telah menjadikan Fakultas Kehutanan USU sebagai ruang bertukar pengetahuan dan gagasan mengenai masa depan hutan Indonesia.

“Hutan Sumatera Utara memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Harapannya, generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga kelestarian lingkungan dan kekayaan alam yang kita miliki,” ujar Arida.

Menurutnya, kekayaan alam Indonesia merupakan aset sekaligus amanah yang membutuhkan keterlibatan generasi muda. Karena itu, kegiatan seperti FYV Resilience Summit dinilai penting untuk membangun kesadaran, kapasitas, dan keberanian generasi muda dalam mengambil bagian dalam upaya pelestarian lingkungan.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Kepala BBKSDA Sumatera Utara yang diwakili oleh Kepala Bidang Teknik BBKSDA Sumatera Utara, Dr. Ichwan Muslih, S.Si., M.Si. Ia menilai kegiatan ini menjadi langkah awal bagi generasi muda untuk mengambil peran sebagai penggerak perubahan dalam pelestarian hutan dan lingkungan.

“BBKSDA Sumatera Utara mendukung kegiatan seperti ini. Kegiatan ini merupakan awal bagi peserta untuk menjadi agent of change dalam pelestarian lingkungan dan hutan,” ujar Ichwan.

Sementara itu, Project Manager LEVERAGE (Law Enforcement for Sustainable Viable Ecosystems and Biodiversity Resilience through Multi-Sectors Engagement), Ir. Achmad Pribadi, M.Sc., mengajak para peserta memanfaatkan kegiatan sebagai ruang untuk memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring kolaborasi.

“Dengan mengikuti kegiatan ini, tentu ada manfaatnya bagi diri sendiri dan juga bagi lingkungan sekitar. Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar, membangun jejaring, dan melahirkan ide-ide yang bisa memberikan dampak,” pungkasnya.

FYV Resilience Summit kemudian secara resmi dibuka oleh Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) Kementerian Kehutanan, Luckmi Purwandari, S.T., M.Si. Dalam sambutannya, Luckmi menjelaskan bahwa proses pembelajaran dalam kegiatan tersebut menerapkan kerangka berpikir State–Pressure–Response (SPR). Kerangka tersebut mengajak peserta memahami kondisi lingkungan (state), mengidentifikasi tekanan atau faktor penyebab permasalahan (pressure), serta menentukan langkah penyelesaian atau respons (response).

Luckmi menegaskan bahwa upaya pelestarian hutan bukan hanya menjadi tanggung jawab mereka yang berasal dari bidang kehutanan. Setiap individu dapat berkontribusi sesuai dengan kompetensi dan bidang masing-masing.

“Tidak harus yang memberikan respons atau melakukan aksi untuk pelestarian hutan berasal dari jurusan kehutanan. Semuanya bisa berkontribusi sesuai bidang masing-masing. Kita harus bersama-sama berkolaborasi melestarikan hutan untuk masa depan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Turut hadir Kepala Bidang Pembinaan Perilaku Generasi Peduli Cinta Alam Pusgenri Kementerian Kehutanan, Ernawati Eko Hartono, S.Hut., M.Si., Kepala Balai P2SDM Wilayah I Pematangsiantar, Soleh Sena Santika, S.E., S.Hut., M.Si., jajaran BBKSDA Sumatera Utara, Manggala Agni Daops I Sibolangit, BPKH Wilayah I, Balai P2SDM Wilayah I Pematangsiantar, civitas akademika Fakultas Kehutanan USU, tim LEVERAGE, serta sejumlah undangan lainnya.

Sebanyak 60 generasi muda dari berbagai instansi dan unsur masyarakat mengikuti kegiatan tersebut. Mereka merupakan generasi muda yang memiliki perhatian terhadap kehutanan, konservasi alam, lingkungan hidup, dan pembangunan berkelanjutan.

Salah satu agenda utama FYV Resilience Summit adalah pemaparan ide-ide kreatif yang disampaikan oleh para peserta. Gagasan tersebut kemudian mendapatkan tanggapan langsung dari para pemangku kepentingan yang hadir, yaitu Prof. Dr. Arida Susilowati, S.Hut., M.Si.; Dr. Ichwan Muslih, S.Si., M.Si.; Ir. Achmad Pribadi, M.Sc.; Luckmi Purwandari, S.T., M.Si.; serta Soleh Sena Santika, S.E., S.Hut., M.Si.

Sesi tersebut menjadi ruang dialog yang produktif antara generasi muda dan para pemangku kepentingan. Peserta tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan, mendapatkan masukan, membangun jejaring, serta mengembangkan potensi aksi yang dapat memberikan dampak bagi lingkungan.

Semangat kebersamaan juga terasa dalam suasana kegiatan di luar sesi utama. Saat coffee break dan istirahat, peserta, narasumber, panitia, serta tamu undangan berinteraksi secara hangat dan bernyanyi bersama. Momen tersebut memperlihatkan bahwa gerakan pelestarian lingkungan tidak hanya tumbuh dari pengetahuan, tetapi juga dari hubungan, kolaborasi, dan rasa kebersamaan.

Melalui semangat “Youth for Biodiversity Resilience”, FYV Resilience Summit mendorong generasi muda untuk tidak berhenti sebagai penerima pengetahuan, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran, pengembangan gagasan, hingga aksi nyata dalam menjaga hutan dan keanekaragaman hayati.

Dalam kesempatan tersebut, Fakultas Kehutanan USU juga menjalin hubungan kerja sama dan melaksanakan penandatanganan dokumen kerja sama dengan pihak terkait. Kerja sama tersebut menjadi langkah konkret dalam memperkuat sinergi antarlembaga serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam bidang kehutanan, konservasi keanekaragaman hayati, pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, penelitian, dan kegiatan lain yang mendukung pelestarian lingkungan.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi, lembaga, dan disiplin ilmu dalam menjawab tantangan lingkungan. Dari ruang pembelajaran hingga gagasan yang lahir dari para peserta, FYV Resilience Summit diharapkan dapat menjadi titik awal bagi lahirnya gerakan generasi muda yang konsisten dalam menjaga kekayaan alam Indonesia.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim dan SDG 15: Ekosistem Daratan, melalui peningkatan kapasitas generasi muda dalam konservasi, perlindungan biodiversitas, serta pencegahan dan penanganan ancaman terhadap ekosistem hutan. Kolaborasi antara Kementerian Kehutanan, BBKSDA Sumatera Utara, Fakultas Kehutanan USU, LEVERAGE, serta berbagai pihak yang terlibat juga memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, sebagai fondasi dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.