HUMAS FAHUTAN – Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) menerima kunjungan dari Endemic Indonesia Society (EIS) pada 2 Juni 2026 di Ruang Rapat Fakultas Kehutanan USU. Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam membangun sinergi dan kolaborasi untuk mendukung upaya konservasi biodiversitas Indonesia, khususnya pelestarian burung sikatan aceh (Cyornis ruckii), salah satu spesies burung endemik yang sangat langka dan terancam punah.

Kunjungan tersebut disambut langsung oleh Dekan Fakultas Kehutanan USU, Prof. Arida Susilowati, didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, Dr. Anita Zaitunah, Staff Ahli Dekan Bidang Kerja Sama, Dr. Nelly Anna, serta dosen bidang konservasi sumber daya hutan yang diwakili oleh Dr. Ma’rifatin Zahrah, Dr. Pindi Patana, dan Dr. Ridahati Rambey.

Dari pihak Endemic Indonesia Society, hadir Zulqarnain Assidiqqi, S.Pd., M.Sc. selaku Direktur EIS bersama Prajawan Kusuma Wardhana, S.Pd. Kehadiran mereka disambut hangat sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan kelembagaan sekaligus membuka peluang kerja sama dalam bidang penelitian, konservasi, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang keanekaragaman hayati.

Dalam kesempatan tersebut, Zulqarnain memaparkan berbagai inisiatif yang telah dilakukan EIS dalam upaya pencarian kembali keberadaan burung sikatan aceh (Cyornis ruckii). Spesies burung endemik yang dikenal juga sebagai Rück’s Blue Flycatcher ini telah lama dianggap menghilang karena tidak adanya catatan keberadaan yang terverifikasi selama beberapa dekade. Namun demikian, melalui sejumlah kegiatan eksplorasi dan survei lapangan yang dilakukan oleh tim EIS, ditemukan beberapa indikasi yang mengarah pada kemungkinan keberadaan spesies tersebut di habitat alaminya.

Meski demikian, hingga saat ini belum diperoleh bukti yang cukup untuk memastikan bahwa individu yang teramati benar merupakan burung sikatan aceh. Kondisi tersebut mendorong EIS untuk terus melakukan penelitian dan eksplorasi secara intensif guna mengungkap kembali keberadaan salah satu burung paling misterius dan terancam punah di Indonesia tersebut.

Dalam pemaparannya, Zulqarnain menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mendukung upaya konservasi spesies langka. Fakultas Kehutanan USU dinilai sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi yang memiliki komitmen kuat terhadap konservasi biodiversitas, khususnya di wilayah Sumatera Utara. Selain memiliki sumber daya akademik yang kompeten, Fakultas Kehutanan USU juga aktif melaksanakan berbagai kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Mengingat habitat potensial burung sikatan aceh berada di kawasan hutan Sumatera Utara hingga Aceh, EIS berupaya menggandeng berbagai pemangku kepentingan di kedua wilayah tersebut untuk bersama-sama mendukung pencarian dan konservasi spesies ini. Melalui kerja sama yang terbangun, diharapkan dapat tercipta sinergi yang kuat dalam pengumpulan data, pelaksanaan survei lapangan, penelitian ilmiah, hingga penyusunan strategi konservasi yang lebih efektif.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Kedua belah pihak saling bertukar informasi, pengalaman, serta pandangan terkait tantangan dan peluang konservasi biodiversitas di Indonesia. Berbagai gagasan mengenai potensi kolaborasi penelitian, pelibatan mahasiswa dalam kegiatan konservasi, serta penguatan jejaring konservasi di Sumatera turut menjadi topik pembahasan dalam pertemuan tersebut.

Dekan Fakultas Kehutanan USU, Prof. Arida Susilowati, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Endemic Indonesia Society dalam membangun kemitraan dengan institusi akademik. Menurutnya, kolaborasi antara organisasi konservasi dan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan inovasi serta memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia melalui pendekatan ilmiah yang berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, kedua institusi sepakat memperkuat hubungan kerja sama melalui penandatanganan Implementation Arrangement (IA) yang menjadi landasan pelaksanaan berbagai program kolaboratif di masa mendatang. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen bersama dalam mendukung upaya konservasi biodiversitas Indonesia.

Melalui kolaborasi ini, Fakultas Kehutanan USU dan Endemic Indonesia Society berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian spesies-spesies langka Indonesia, khususnya burung sikatan aceh, sekaligus memperkuat peran akademisi dan praktisi konservasi dalam menjaga kekayaan hayati nusantara bagi generasi mendatang.

Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 15: Ekosistem Daratan, melalui upaya perlindungan dan konservasi spesies yang terancam punah beserta habitat alaminya. Selain itu, kolaborasi antara Fakultas Kehutanan USU dan Endemic Indonesia Society juga mendukung SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dengan membangun sinergi antara lembaga pendidikan tinggi dan organisasi konservasi dalam menghasilkan aksi nyata untuk pelestarian biodiversitas Indonesia. Upaya pencarian kembali burung sikatan aceh juga berkontribusi pada penguatan basis data ilmiah dan pengembangan penelitian konservasi yang mendukung pengambilan kebijakan berbasis sains untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam Indonesia.