Fakultas Kehutanan USU Terlibat dalam Penyusunan SRAK Gajah di Indonesia

peserta srak gajah

Gajah (Elephas maximus) d Indonesia dalam kondisi yang semakin terancam. Sebaran Gajah yang berada di Sumatera dan Kalimantan mendapat tekanan baik dari populasi maupun habitatnya. Populasi Gajah di Indonesia menurut Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) diperkirakan mencapai 2400-2800 ekor yang tersebar di tujuh Provinsi di Sumatera dan Provinsi Kalimantan Utara.

Gajah termasuk dalam daftar merah spesies terancam punah (critically endangered) menurut daftar yang dikeluarkan oleh Lembaga Konservasi Dunia, International Union for Conservation of Nature (IUCN).  Ancaman kepunahan salah satunya adalah meningkatnya konflik Gajah. Media massa akhir-akhir ini  banyak memberitakan kematian Gajah akibat diracun dan ditembak oleh masyarakat karena masuk ke areal perkebunan dan pemukiman. Kondisi habitat Gajah juga mengalami ancaman karena sebagian besar habiat Gajah saat ini berada di kawasan yang sangat tinggi tinkat konfliknya. Menurut data (FKGI sekitar 85% habitat Gajah berada di dalam kawasn konservasi yang tersebar di sepuluh kantong di Sumatera dan Kalimantan.

Dalam upaya untuk menguatkan upaya konservasi Gakah di Indonesia berbagai pemangku kepentingan telah membuat Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah (SRAK Gajah) tahun 2007-2017. Dokumen ini merupakan dokumen resmi negara terakit upaya konservasi dari dua sub-spesies Gajah yang ada di Indonesia. Kondisi terkini dan harapan masa depan untuk konservasi Gajah mengharuskan adanya evaluasi terhadap capaian impelemntasi dari SRAK Gajah 2007-2017. Untuk itu melalui Direktorat Keanekaragaman Hayati (KKH) Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem mengadakan pertemuan Evaluasi SRAK Gajah yang dadakan di Bogor pada 7-8 Agustus 2017. Pertemuan ini dihadiri oleh 50 peserta dari berbagai pemangku kepentingan konservasi Gajah dari seluruh Indonesia.

 Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), yang diwakili oleh Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Dr. Achmad Siddik Thoha, S.Hut, M.Si, hadir sebagai salah satu pemangku kepentingan dari Perguruan Tinggi untuk terlibat aktif dalam evaluasi SRAK Gajah 2007-2017 dan sekaligus penyusunan SRAK Gajah untuk sepuluh tahun ke depan (2018-2028). Pemangku kepentingan lain yang hadir bersama 50 orang lainnya dalam pertemuan ini antara lain Direktorak KKH,  Balai Taman Nasioanal dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam di wilayah terdekat kantong Gajah, Dinas Kehutanan Provinsi, Lembaga Swadaya Masyakarat dan Perguruan Tinggi.

Dalam pertemuan ini dihasilkan rancangan SRAK Gajah untuk 10 tahun ke depan (2018-2028) dengan visi Living Harmony between Elephant and Human. Enam isu utama ddibahas dalam SRAK Gajah 2018-2028 yaitu Kebijakan dan Tata Ruang, Data dan Informasi, Mitigasi Konflik Gajah dan Manusia, Pengelolaan Populasi dan Habitat, Penegakan Hukum dan Penyadartahuan serta Pemanfaatan Gajah dan Biomedik Konservasi. Dari isu-sisu tersebut dirumuskan strategi, rencana aksi, waktu dan siapa yang menjadi pelaksana program. Draft SRAK Gajah ini diharapkan akan mnejadi dokumen resmi negara dan diacu oleh semua pihak yang terlibat dalam konservasi gajah di Indonesia.

Dalam pertemuan ini, Fakultas Kehutanan USU akan dimasukkan menjadi salah satu anggota FKGI. Dengan masuknya Fakultas Kehutanan USU diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya konservasi Gajah dan meningkatkan peran Fakultas Kehutanan USU dalam pelestarian hutan khsusunya di wilayah Sumatera Utara.

Penulis : Achmad Siddik Thoha (12/8/2017)